Arab Saudi Gabung AS Serang Milisi Pro Iran di Irak, 20 Orang Dilaporkan jadi Korban

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 10:40 WIB
20 orang meninggal dunia akibat serangan gabungan Arab Saudi dan AS. (Foto: BBC News)
20 orang meninggal dunia akibat serangan gabungan Arab Saudi dan AS. (Foto: BBC News)

RADAR BOGOR — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Angkatan Udara Arab Saudi berkolaborasi dengan militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara ke basis milisi yang didukung Iran di wilayah Irak bagian timur.

Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) mengonfirmasi bahwa serangan gabungan tersebut menyasar sejumlah fasilitas logistik dan persenjataan milik kelompok milisi yang diarahkan oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC).

Juru Bicaranya menyatakan, operasi udara ini dilakukan sebagai respons atas lebih dari 30 serangan drone yang menyasar pasukan AS serta fasilitas energi di wilayah Arab Saudi dalam 72 jam terakhir.

Juru Bicaranya Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menegaskan bahwa serangan tersebut dilakukan dalam rangka hak membela diri sesuai Statuta PBB, setelah kilang minyak di wilayah Timur dan Riyadh diserang drone yang diluncurkan dari wilayah Irak.

"Kerajaan Arab Saudi menegaskan tidak menginginkan eskalasi, namun akan merespons secara tegas setiap bentuk agresi yang ditujukan ke wilayah kami," ujar al-Maliki dalam keterangan resminya.

Di pihak lain, kelompok paramiliter Irak, Popular Mobilisation Forces (PMF) koalisi milisi Syiah yang secara formal terintegrasi dengan angkatan bersenjata Irak menyatakan sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya luka-luka akibat serangan udara AS-Arab Saudi.

Baca Juga: bank bjb Gandeng Universitas Al-Ma'soem, Hadirkan Program DPLK untuk Tingkatkan Kesejahteraan Pegawai

PMF mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya serta pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negara Irak.

Sementara itu, pejabat pertahanan Iran yang dikutip media pemerintah menolak tuduhan keterlibatan Tehran dalam serangan drone ke kilang minyak Arab Saudi.

Pemerintah Irak melalui Dewan Keamanan Nasionalnya turut menyesalkan serangan militer tersebut.

Pihaknya mengklaim serangan terjadi saat pemerintah Irak sedang berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk menyelidiki klaim dari AS dan Arab Saudi.

Eskalasi militer ini langsung berdampak pada pasar komoditas global. Harga minyak mentah dunia jenis Brent dilaporkan mengalami kenaikan hingga lebih dari 3 persen akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dan penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz. (Rana/Tazkia)

Editor : Yosep Awaludin
serangan udara Arab Saudi iran