RADAR BOGOR — Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer untuk memperkuat keamanan di Ceuta, wilayah eksklave (kantong) milik Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara.
Langkah darurat Spanyol ini diambil setelah ribuan migran tanpa dokumen nekat menyeberang dari Maroko, Kamis.
Insiden penyeberangan massal tersebut menelan korban jiwa. Sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas tenggelam saat berusaha berenang mengitari pembatas laut menuju wilayah Spanyol.
Laporan BBC menyebutkan, antara 2.000 hingga 3.000 orang diperkirakan berhasil masuk setelah sistem kontrol perbatasan sempat lumpuh.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan bahwa pengerahan militer bertujuan membantu aparat Civil Guard dalam memulihkan ketertiban.
Otoritas Spanyol menuding jaringan perdagangan manusia mengeksploitasi putusan terbaru Mahkamah Agung Spanyol, yang melarang pengembalian langsung migran yang ditangkap di laut, untuk mendorong gelombang penyeberangan massal.
Baca Juga: Hal Resmi Berganti Nama Jadi Halstage, Ini 3 Lagu Pop Folk yang Mengukuhkan Identitas Musiknya
Peristiwa ini juga memicu gesekan politik di tingkat Eropa. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan keprihatinannya dan mempertimbangkan tindakan luar biasa terkait Perjanjian Schengen.
Pernyataan senada dari Menlu Italia Antonio Tajani menuai kritik keras dari Menlu Spanyol Jose Luis Albares, yang menilai isu imigrasi dan krisis kemanusiaan ini tidak sepatutnya dijadikan komoditas politik partisan.
Sementara itu di lapangan, situasi masih memprihatinkan. Pusat penampungan migran di Ceuta dilaporkan melebihi kapasitas, sedangkan otoritas Maroko di kota Fnideq sempat mengerahkan meriam air untuk menghalau massa di garis batas. (Rana/Tazkia)
Editor : Yosep Awaludin