RADAR BOGOR – Cuaca ekstrem tengah membayangi daratan Eropa. Jerman kini berada dalam ancaman serius setelah gelombang panas hebat menerjang kawasan tersebut dan menelan korban jiwa hingga mendekati angka 10.000 orang.
Berdasarkan data estimasi dari Robert Koch Institute (RKI) Jerman, tercatat sekitar 9.800 kasus kematian yang berkaitan dengan gelombang panas ekstrem sepanjang periode awal April hingga pertengahan Juli.
Lonjakan ini menjadi rekor tertinggi dalam sedekade terakhir, melampaui rekor mematikan sebelumnya pada 2018 yang menelan 9.000 korban jiwa.
Puncak krisis suhu panas ini dilaporkan terjadi pada akhir Juni, ketika termometer di sejumlah daerah di Jerman menyentuh angka ekstrem mendekati 42 derajat Celsius.
Data Kantor Statistik Federal Jerman juga mencatat adanya lonjakan angka kematian mingguan hingga 32 persen dibanding tahun lalu pada periode yang sama.
Ancaman suhu panas ekstrem ini terbukti sangat fatal bagi kelompok warga lanjut usia (lansia).
RKI mencatat mayoritas korban tewas yakni sekitar 7.900 jiwa berasal dari kelompok lansia berusia 75 tahun ke atas.
Baca Juga: Cocok Jadi Bekal, Resep Oseng Tahu Telur Kecap, Praktis dan Anti Gagal
Suhu udara yang terlalu tinggi memicu perburukan kondisi kesehatan mendadak pada penderita penyakit kronis, seperti gangguan jantung, sistem pernapasan, hingga ginjal.
Karena gejalanya yang kerap terselubung dan tidak langsung dicantumkan pada sertifikat kematian, kondisi ini sering kali dijuluki sebagai pemicu kematian yang tak terlihat (silent killer).
Para pakar iklim menegaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering, berdurasi panjang, dan berintensitas tinggi ini tidak lepas dari dampak pemanasan global akibat aktivitas manusia.
Jumlah korban jiwa di Jerman diperkirakan masih bisa bertambah seiring masuknya data susulan serta potensi gelombang panas susulan yang masih berlangsung hingga akhir musim panas. (Saniah/Tazkia)
Editor : Yosep Awaludin