Korsel Diterjang Gelombang Panas Ekstrem, 21 Orang Meninggal dan Suhu Tembus 42,5 Derajat Celsius

Rani Puspitasari Sinaga • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:40 WIB
Ilustrasi gelombang panas ekstrem yang melanda Korsel. Foto: Reuters/Kim Hong-Ji.
Ilustrasi gelombang panas ekstrem yang melanda Korsel. Foto: Reuters/Kim Hong-Ji.

RADAR BOGOR – Korea Selatan (Korsel) tengah menghadapi gelombang panas ekstrem yang berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat.

Hingga 6 Agustus 2026, sedikitnya 21 orang dilaporkan meninggal dunia dalam kasus yang berkaitan dengan gelombang panas ekstrem di Korsel.

Gelombang panas ekstrem tersebut membuat pemerintah Korsel meningkatkan upaya perlindungan masyarakat.

Baca Juga: Sudah Status SI di SIK-NG? Ini 10 Daerah yang Diminta Segera Cek Saldo KKS Bansos PKH-BPNT

Presiden Lee Jae Myung meminta pemerintah pusat dan daerah mengerahkan sumber daya yang diperlukan untuk menangani dampak gelombang panas, terutama bagi kelompok yang paling rentan.

Salah satu catatan suhu tertinggi terjadi di Kota Yangsan, wilayah tenggara Korea Selatan. Pada 2 Agustus 2026, suhu di kawasan tersebut mencapai 42,5 derajat Celsius.

Badan Meteorologi Korea Selatan menyebut angka tersebut menjadi suhu tertinggi yang tercatat sepanjang 122 tahun sejarah pengamatan cuaca di negara tersebut.

Seoul Ikut Dilanda Suhu Ekstrem

Baca Juga: Bukti PKH dan BPNT Tahap 3 Cair 10-11 Agustus 2026 dari Bank BSI, BRI, dan BNI di Berbagai Daerah

Gelombang panas juga terasa di Seoul. Suhu di ibu kota Korea Selatan diperkirakan mencapai sekitar 39 derajat Celsius, mendekati rekor tertinggi 39,6 derajat Celsius yang tercatat pada 2018.

Tidak hanya pada siang hari, kondisi panas juga bertahan hingga malam. Sejumlah wilayah bahkan mengalami suhu malam hari di atas 30 derajat Celsius, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan waktu istirahat dari paparan panas.

Pemerintah kemudian mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya saat suhu berada pada titik tertinggi.

Dampak gelombang panas turut dirasakan dalam kegiatan publik. Sejumlah pertandingan bisbol di Korea Selatan terpaksa dibatalkan setelah beberapa penonton mengalami gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem.

Baca Juga: Penyanyi Ariana Grande Pilih Jeda dari Dunia Hiburan, Ingin Fokus pada Kesehatan dan Istirahat

Petani Jadi Perhatian, Drone Dikerahkan

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada pekerja luar ruangan dan petani lanjut usia yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat panas.

Di Provinsi Gyeongsang Utara, pemerintah daerah bahkan memanfaatkan drone yang dilengkapi pengeras suara dan kamera termal. Teknologi tersebut digunakan untuk memperingatkan petani agar beristirahat dan menghindari bekerja terlalu lama di bawah terik matahari.

Drone juga membantu petugas memantau area pertanian yang luas sehingga kondisi para pekerja dapat lebih mudah diawasi.

Konsumsi Listrik Ikut Meningkat

Baca Juga: Teror Baru Insidious Segera Hadir! Ini Sinopsis Out of the Further yang Siap Bikin Merinding

Cuaca panas ekstrem juga berdampak pada kebutuhan energi. Penggunaan pendingin ruangan yang meningkat membuat konsumsi listrik ikut terdorong naik.

Pemerintah Korea Selatan meminta kondisi sistem kelistrikan terus diperiksa dan dipantau guna memastikan pasokan energi tetap aman selama gelombang panas berlangsung.

Data yang dikutip Reuters menunjukkan, sejak 15 Mei 2026 hingga awal Agustus, lebih dari 2.000 orang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan panas.

Kelompok lansia, pekerja luar ruangan, petani, serta masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap tempat sejuk menjadi kelompok yang mendapat perhatian lebih.

Baca Juga: Resmi PKH dan BPNT Triwulan 3 Sudah Disalurkan, Target Tuntas Akhir Agustus 2026

Pemerintah Korea Selatan terus mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh, mencukupi kebutuhan cairan, membatasi aktivitas berat di bawah terik matahari, serta segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala gangguan akibat panas.

Gelombang panas dengan suhu ekstrem tersebut menjadi tantangan serius bagi Korea Selatan, terutama karena dampaknya tidak hanya dirasakan pada kesehatan, tetapi juga aktivitas masyarakat dan kebutuhan energi nasional. (Ara / TAZKIA)

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
Sumber : Korea Meteorological Administration
Gelombang panas korsel suhu panas