Pemilu Zambia Diwarnai Intimidasi dan Penculikan, Penghitungan Suara Sempat Dihentikan

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Suasana Pemilu Presiden di Zambia. (Foto: Moses Mwape/Reuters, aljazeera.com)
Suasana Pemilu Presiden di Zambia. (Foto: Moses Mwape/Reuters, aljazeera.com)

RADAR BOGOR – Pelaksanaan pemilihan presiden di Zambia mendapat sorotan dari pemantau internasional setelah muncul berbagai laporan mengenai intimidasi, penculikan, hingga kekerasan di sejumlah wilayah.

Situasi tersebut bahkan sempat membuat proses penghitungan suara di Zambia dihentikan selama beberapa jam.

Dikutip dari Al Jazeera, misi pemantau Uni Eropa dan Komunitas Pembangunan Afrika Bagian Selatan (SADC) meminta seluruh peserta pemilu menahan diri.

Mereka juga mengingatkan partai politik agar tidak mengeluarkan pernyataan yang berpotensi memperkeruh situasi ketika proses rekapitulasi suara masih berlangsung.

Pemilu Zambia digelar pada Kamis lalu. Dalam proses penghitungan suara, aktivitas sempat dihentikan setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap petugas pemilu serta dugaan adanya pencurian surat suara.

Penghitungan kemudian kembali dilanjutkan setelah Komisi Pemilihan Umum Zambia menyatakan bahwa situasi keamanan yang sempat mengancam proses rekapitulasi telah berhasil dikendalikan.

Baca Juga: 3 Rilisan Musik Terbaru Indonesia: Ardhito Pramono, Gabriel Prince hingga Nadine Makalew

Hichilema Kembali Maju sebagai Petahana

Presiden Zambia Hakainde Hichilema dari United Party for National Development (UPND) kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden untuk periode kedua.

Dalam kontestasi tersebut, Hichilema menghadapi persaingan dari mantan menteri Brian Mundubile yang maju sebagai kandidat dari partai oposisi NRPUP.

Keputusan menghentikan sementara penghitungan suara kemudian mendapat reaksi keras dari kubu oposisi.

Mundubile menilai penundaan tersebut dapat memunculkan kecurigaan sekaligus menciptakan peluang terjadinya manipulasi hasil pemilu.

Namun, tudingan tersebut dibantah oleh pihak Hichilema yang menegaskan bahwa tidak ada upaya untuk memengaruhi hasil pemilihan.

Pemantau Laporkan Kekerasan di Lima Provinsi

Ketua Misi Pemantau SADC, Samuel Tembenu, mengatakan pihaknya menerima sejumlah laporan terkait kondisi keamanan selama proses pemilu.

Laporan tersebut antara lain menyangkut dugaan intimidasi, penganiayaan, penculikan, hingga aksi perusakan properti yang terjadi di lima provinsi.

Selain kerusakan dan kekerasan, sejumlah insiden juga dilaporkan menyebabkan korban luka. Bahkan, terdapat satu kejadian yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Misi Pemantau Uni Eropa juga memberikan perhatian terhadap keputusan penghentian sementara proses penghitungan suara.

Menurut mereka, langkah tersebut dinilai terlalu luas jika dibandingkan dengan jumlah tempat pemungutan suara yang benar-benar terdampak aksi kekerasan.

Baca Juga: Warung Tuang Karawang, Kuliner Sunda di Tengah Sawah Hijau dengan Jajanan Jadul

Polisi Tangkap Sembilan Orang

Kepolisian Zambia mengonfirmasi telah menangkap sembilan orang yang diduga berkaitan dengan kasus pembunuhan seorang saksi pemilu di luar ibu kota Lusaka.

Meski terjadi sejumlah insiden, kepolisian menyatakan bahwa pelaksanaan pemungutan suara secara keseluruhan berlangsung dalam kondisi relatif damai.

Misi pemantau internasional pun terus menyerukan kepada seluruh kandidat, partai politik, dan pendukungnya untuk menjaga ketenangan selama proses rekapitulasi berlangsung.

Situasi keamanan dan proses penghitungan suara menjadi perhatian utama karena hasil pemilu Zambia akan menentukan arah kepemimpinan negara tersebut untuk periode berikutnya. (Renno/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
intimidasi penculikan zambia