RADAR BOGOR – Gelombang migrasi menuju Ceuta, wilayah eksklave Spanyol di pesisir Afrika Utara, berujung tragedi besar.
Sedikitnya 90 orang dilaporkan meninggal dunia setelah lebih dari 70.000 calon migran asal Maroko dan wilayah sekitarnya mencoba menyeberangi perbatasan menuju kawasan Ceuta Spanyol.
Mengutip laporan Associated Press (AP), peristiwa itu menjadi salah satu tragedi migrasi paling mematikan yang pernah terjadi di kawasan perbatasan Maroko-Spanyol.
Gelombang massa tersebut diduga dipengaruhi informasi palsu yang beredar luas di media sosial.
Sejumlah unggahan menyebut perbatasan Maroko dan Spanyol telah dibuka sehingga memicu ribuan orang bergerak menuju Ceuta.
Di sisi lain, kondisi ekonomi, tingginya pengangguran, serta terbatasnya pekerjaan dengan penghasilan layak turut menjadi faktor yang mendorong sebagian warga Maroko mengambil risiko untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa.
Baca Juga: PKH dan BPNT Tahap 3 Agustus 2026: Cek Saldo KKS, Perubahan Desil hingga Bantuan Beras 30 Kg
Tiga Pemuda Maroko Jadi Korban
Di antara puluhan korban meninggal, terdapat kisah tiga pemuda Maroko yang menggambarkan beratnya tekanan ekonomi dan harapan terhadap kehidupan di Eropa.
Salah satunya adalah Ayoub Akbili, 31 tahun. Pria yang merupakan lulusan sarjana fisika tersebut bekerja di sebuah pabrik komponen otomotif dengan pendapatan sekitar 421 dolar AS atau setara Rp6,5 juta per bulan.
Akbili memutuskan ikut dalam gelombang penyeberangan dengan harapan dapat memperoleh penghasilan lebih besar.
Ia disebut ingin mengumpulkan uang tambahan untuk membantu membiayai operasi hernia yang harus dijalani ibunya.
Namun, harapan tersebut berakhir tragis. Pada 31 Juli, Akbili meninggal setelah mengalami cedera kepala parah akibat terjatuh dari tebing ketika situasi di sekitar perbatasan berlangsung kacau.
Korban lainnya adalah Hamza Haibouri, 28 tahun, yang dikenal sebagai pemain sepak bola profesional.
Ia tercatat memperkuat Kenitra Athletic Club, klub yang berkompetisi di kasta kedua sepak bola Maroko.
Haibouri disebut telah kehilangan penghasilan selama sekitar satu tahun. Saat tengah berlibur di Martil, ia kemudian memutuskan mengikuti arus migrasi menuju Ceuta karena ingin mendapatkan kesempatan lebih baik untuk melanjutkan karier sepak bola sekaligus memperbaiki kehidupannya di Eropa.
Sementara itu, Abdelouahed Iken yang baru berusia 19 tahun juga menjadi korban.
Pelajar sekolah menengah asal Agadir tersebut disebut terpengaruh unggahan seorang temannya di Facebook yang memperlihatkan kehidupan mewah di Italia.
Baca Juga: BPNT Tahap 3 2026 Mulai Dilaporkan Cair Rp600.000 di KKS BNI, Benarkah?
Iken diketahui tidak memiliki kemampuan berenang. Demi mencoba menyeberangi perairan menuju wilayah Spanyol, ia membeli pelampung. Namun, upaya tersebut berakhir dengan dirinya tenggelam di kawasan perbatasan.
Disinformasi Media Sosial Picu Gelombang Migrasi
Otoritas Maroko dan Spanyol menilai jaringan penyelundupan manusia serta penyebaran informasi palsu melalui media sosial ikut berperan besar dalam membesarnya jumlah orang yang mendatangi kawasan perbatasan.
Informasi keliru mengenai pembukaan perbatasan disebut menyebar dengan cepat dan mendorong masyarakat untuk berbondong-bondong menuju Ceuta.
Setelah kejadian tersebut, sebagian besar orang yang berhasil selamat telah dikembalikan ke wilayah Maroko.
Sementara itu, aparat memperketat pengawasan dan pengamanan di sepanjang kawasan pesisir untuk mencegah gelombang penyeberangan kembali terjadi.
Namun, persoalan belum sepenuhnya berakhir. Tragedi tersebut meninggalkan luka mendalam bagi keluarga para korban, termasuk persoalan biaya dan proses pemulangan jenazah.
Pemulangan Jenazah Terkendala Biaya dan Administrasi
Keluarga korban disebut harus menanggung biaya pemulangan jenazah dari Ceuta ke Maroko yang dapat mencapai 2.500 euro atau sekitar Rp42 juta.
Baca Juga: Inovasi Dosen UB Atasi Sumbatan Alat Penghisap Bedah
Di sisi lain, proses identifikasi dan pembedahan terhadap 82 jenazah migran telah dilakukan oleh tim medis di Ceuta.
Meski demikian, sebagian jenazah masih belum dapat dipulangkan karena proses administrasi dan koordinasi antara otoritas Maroko dengan Spanyol belum rampung.
Tragedi ini kembali memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi para migran ketika tekanan ekonomi, harapan terhadap kehidupan yang lebih baik, serta informasi menyesatkan di media sosial bertemu dalam satu situasi yang penuh bahaya. (Renno/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin