AS-Iran Kembali Memanas, Selat Hormuz Diklaim Terbuka tetapi Tehran Tegaskan Masih Ditutup

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:40 WIB
Ketegangan kembali meningkat antara Amerika dan Iran mengenai Selat Hormuz. (Foto: REUTERS/Stringer)
Ketegangan kembali meningkat antara Amerika dan Iran mengenai Selat Hormuz. (Foto: REUTERS/Stringer)

RADAR BOGOR - Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali berada dalam situasi tegang setelah kesepakatan gencatan senjata sementara berakhir.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada agenda pembicaraan lanjutan dengan Tehran, sekaligus mengklaim Selat Hormuz telah kembali aman bagi pelayaran internasional.

Pernyataan tersebut langsung mendapat bantahan dari pihak Iran yang menyebut jalur perairan strategis itu masih ditutup.

Perbedaan klaim antara Washington dan Tehran menambah ketidakpastian terhadap kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari Reuters, Trump melalui unggahan di platform Truth Social mengatakan blokade laut masih diberlakukan, tetapi Selat Hormuz disebut telah aman setelah proses pembersihan ranjau laut dilakukan.

Namun, klaim tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan laporan mengenai situasi di lapangan maupun pernyataan pejabat Iran.

Baca Juga: TPG Guru Madrasah 2026: Cek Syarat dan Data EMIS GTK

Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Masih Terganggu

Lembaga Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau UKMTO melaporkan sebuah kapal mengalami serangan proyektil yang belum diketahui jenisnya ketika melintas di kawasan Selat Hormuz.

Insiden tersebut menyebabkan bagian ruang mesin kapal mengalami kerusakan. Salah seorang anggota awak kapal juga dilaporkan meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) menyebut pihaknya mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Iran dan mengarah ke jalur lalu lintas maritim.

Meski demikian, pemerintah Iran membantah tuduhan mengenai peluncuran rudal tersebut.

Juru bicara parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa posisi Tehran terhadap Selat Hormuz belum berubah.

Menurutnya, jalur strategis tersebut akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Iran.

Beberapa tuntutan tersebut meliputi penghentian blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian ancaman dan operasi militer.

Situasi semakin kompleks setelah seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa pasukan negaranya kini mengambil posisi militer yang disebut sepenuhnya ofensif.

Perubahan postur tersebut disebut terjadi setelah jalur diplomasi mengalami kebuntuan di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.

Konflik AS-Iran Berimbas ke Ekonomi Global

Ketegangan yang berlangsung hampir enam bulan tersebut tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga mulai memberikan tekanan terhadap perekonomian global.

Baca Juga: Spider-Man : Brand New Day Tembus Rp32 Triliun, Pecahkan Rekor No Way Home

Ketidakpastian mengenai keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian besar karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur penting dalam perdagangan energi dunia.

Harga minyak mentah Brent sempat mengalami lonjakan tajam hingga mencapai sekitar US$126 per barel sebelum kemudian turun dan berada di kisaran US$91 per barel.

Pergerakan harga minyak tersebut menunjukkan besarnya pengaruh konflik terhadap pasar energi global.

Kekhawatiran terhadap pasokan energi juga ikut meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan.

Di pasar saham internasional, sejumlah indeks mengalami penurunan. Pada saat yang sama, biaya pinjaman di beberapa negara maju meningkat hingga menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade karena investor semakin mengkhawatirkan tekanan inflasi.

Meski hubungan Washington dan Tehran kembali memanas, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Sejumlah penasihat senior Iran menyatakan Tehran masih membuka kemungkinan untuk melakukan dialog.

Baca Juga: Bukan Semua KPM, Tapi Sudah Ada yang Cair! Bansos BPNT Rp600 Ribu Sudah Masuk KKS

Namun, Iran menegaskan bahwa perundingan tidak akan dilakukan dengan posisi menyerah akibat tekanan militer maupun sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.

Situasi tersebut membuat perkembangan hubungan AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz masih menjadi perhatian dunia.

Jika ketegangan kembali meningkat, dampaknya berpotensi meluas ke keamanan kawasan, harga energi, perdagangan internasional, hingga pasar keuangan global. (Renno/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
iran selat hormuz amerika serikat