Krisis Air Bersih di Sudan Makin Parah, Pengungsi El-Obeid Antre Berjam-jam Demi Air

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:00 WIB
TakarirPotret warga Sudan yang mengantre air bersih. (Foto: Kanal Youtube @AlJazeeraEnglish)
TakarirPotret warga Sudan yang mengantre air bersih. (Foto: Kanal Youtube @AlJazeeraEnglish)

RADAR BOGOR – Perang berkepanjangan di Sudan tidak hanya memaksa puluhan ribu orang meninggalkan tempat tinggal mereka, tetapi juga menghadapkan para pengungsi pada persoalan lain yang tak kalah serius, yakni sulitnya mendapatkan air bersih.

Situasi tersebut terlihat di kamp pengungsian Sudan di wilayah El-Obeid, Negara Bagian Kordofan Utara. 

Berdasarkan laporan yang ditayangkan kanal YouTube @AlJazeeraEnglish, perempuan dan anak-anak harus rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan pasokan air bagi keluarga mereka.

Mereka bahkan harus mengantre di tengah cuaca panas hanya untuk membawa pulang satu galon air.

Kondisi ini menggambarkan betapa terbatasnya akses terhadap kebutuhan dasar di tengah situasi konflik yang masih berlangsung.

Kebutuhan Air Pengungsi Jauh Melebihi Pasokan

Kamp pengungsian yang dihuni dalam jumlah besar tersebut menghadapi ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan air.

Baca Juga: Puluhan Ribu Rohingya Gelar Demo Besar, Tuntut Dunia Tak Lupakan Krisis Kemanusiaan

Pasokan yang datang menggunakan truk tangki tidak mampu bertahan lama karena langsung diburu oleh para pengungsi.

Satu truk tangki yang membawa sekitar 115 barel air dilaporkan dapat menghabiskan seluruh muatannya hanya dalam hitungan beberapa jam.

Ketika pasokan dari truk tangki habis, para pengungsi terpaksa mencari sumber air lain. Sebagian membeli air dari pedagang keliling yang mengangkutnya menggunakan gerobak yang ditarik keledai.

Air tersebut kemudian dibawa masuk ke tenda-tenda pengungsian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Anak-anak Pengungsi Ikut Mengangkut Air

Krisis air bersih juga berdampak besar terhadap kehidupan anak-anak di kamp El-Obeid.

Mereka kehilangan banyak kesempatan untuk menjalani kehidupan seperti anak-anak pada umumnya, termasuk memperoleh pendidikan secara layak.

Alih-alih pergi ke sekolah dan belajar, sebagian anak justru harus membantu keluarga mendapatkan air.

Waktu mereka banyak digunakan untuk membawa wadah berisi air dengan cara dipikul di atas kepala.

Aktivitas tersebut menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari para pengungsi untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar selama berada di kamp.

Infrastruktur Air Rusak, Distribusi Terancam Serangan Drone

Kondisi semakin sulit karena fasilitas serta sumber air di sejumlah wilayah kota dilaporkan berulang kali menjadi sasaran kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) selama konflik berlangsung.

Baca Juga: KPM PKH Untung Banyak! Ini Daftar 5 Bansos Pelengkap Agustus 2026

Kerusakan terhadap infrastruktur publik tersebut membuat akses masyarakat terhadap air bersih semakin terbatas.

Bagi warga yang mengungsi, pilihan untuk memperoleh air pun menjadi semakin sedikit.

Persoalan tidak berhenti pada ketersediaan air. Pengiriman pasokan menuju kamp pengungsian juga menghadapi risiko keamanan yang serius.

Para pekerja dan relawan yang bertugas mengantarkan air menyebut adanya ancaman serangan drone selama perjalanan. Bahkan, sejumlah pekerja dilaporkan kehilangan nyawa akibat serangan tersebut.

Relawan Tetap Kirim Air di Tengah Ancaman

Meski jalur distribusi dibayangi ancaman serangan, pengiriman air bersih menuju kamp pengungsian tetap dilakukan.

Upaya tersebut menjadi sangat penting karena ribuan orang menggantungkan kebutuhan air sehari-hari pada pasokan darurat yang dikirimkan para pekerja dan relawan.

Di tengah perang yang belum berakhir, perjuangan mendapatkan air bersih akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Sudan yang kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan hidup di kamp pengungsian. (Irsyad/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
Sudan pengungsi air bersih