KTT SCO di Bishkek, Putin dan Xi Jinping Dorong Tatanan Dunia Multipolar di Tengah Tekanan Barat

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:20 WIB
Vladmir Putin dan Xi Jinping mengadakan pertemuan kerjasama. (Foto: laman Al Jazeera dan Instagram @rfi_sw dan @chixinhuanews)
Vladmir Putin dan Xi Jinping mengadakan pertemuan kerjasama. (Foto: laman Al Jazeera dan Instagram @rfi_sw dan @chixinhuanews)

RADAR BOGOR – Persaingan geopolitik dunia kembali menghangat ketika para pemimpin negara anggota Shanghai Cooperation Organisation (SCO) berkumpul di Bishkek, ibu kota Kirgistan, dalam agenda KTT tahunan organisasi tersebut.

Pertemuan yang berlangsung pada Senin itu dihadiri belasan kepala negara dan pemerintahan.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menjadi dua tokoh utama yang turut memimpin pembahasan dalam forum tersebut.

KTT SCO kali ini menjadi momentum penting bagi kedua negara untuk kembali menyuarakan gagasan mengenai tatanan dunia multipolar, terutama ketika hubungan antara kekuatan Barat dan sejumlah negara anggota SCO masih diwarnai ketegangan geopolitik.

Organisasi yang kini memasuki usia 25 tahun tersebut awalnya lebih banyak menitikberatkan kerja sama ekonomi di kawasan.

Namun, peran SCO dalam perkembangan terakhir semakin berkembang menjadi forum bagi negara-negara yang memiliki pandangan berseberangan dengan dominasi Barat.

Baca Juga: TPG Juli-Agustus 2026 Belum Cair Hingga 1 September? Simak Penyebab dan Solusinya

SCO Semakin Berpengaruh di Tengah Geopolitik Global

Dilansir Al Jazeera, perkembangan SCO menunjukkan adanya perubahan fungsi organisasi tersebut dalam percaturan internasional.

Pada sejumlah pertemuan sebelumnya, Vladimir Putin menggunakan forum SCO untuk menyampaikan pandangan bahwa negara-negara Barat memiliki peran dalam memicu konflik di Ukraina.

Sementara itu, Xi Jinping juga beberapa kali memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan kritik terhadap tindakan intimidasi, terutama di tengah hubungan yang terus menegang antara Beijing dan Washington.

Pengaruh SCO di tingkat internasional semakin besar seiring dengan bertambahnya jumlah negara yang bergabung dalam organisasi tersebut.

Hubungan militer yang semakin erat antara Rusia dan Iran turut menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi geopolitik kelompok tersebut.

Di sisi lain, hubungan energi antara Iran dan Tiongkok juga memberikan tambahan kekuatan bagi jaringan kerja sama yang terbentuk di dalam maupun sekitar SCO.

Dengan perkembangan tersebut, blok SCO kini disebut merepresentasikan sekitar 40 persen populasi dunia dan seperempat dari total produk domestik bruto (PDB) global.

KTT SCO Berlangsung di Tengah Tekanan Ekonomi AS ke China

KTT di Bishkek berlangsung ketika hubungan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok kembali mendapat sorotan.

Tekanan dari Washington terhadap Beijing semakin terlihat setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyoroti peningkatan surplus perdagangan Tiongkok yang disebut telah mencapai sekitar 1,2 triliun dolar AS.

Bessent menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan mendorong negara-negara anggota G20 untuk mempertimbangkan kembali sejumlah ketentuan perdagangan yang berkaitan dengan Tiongkok.

Baca Juga: Penyaluran Bansos Dipercepat September 2026, Ada Potensi Cair Rapel bagi KPM Ini

Menurut pandangan pemerintah AS, Beijing tengah berusaha menghadapi pelemahan ekonomi domestiknya dengan meningkatkan ekspor dalam skala besar.

Strategi tersebut dinilai Washington berpotensi tidak berkelanjutan apabila terus dijadikan tumpuan untuk menopang perekonomian Tiongkok.

Poros Baru di Tengah Persaingan Barat dan Timur

Selain agenda utama berupa penandatanganan sejumlah dokumen kerja sama, para pemimpin negara peserta juga melakukan pertemuan bilateral.

Berbagai pertemuan tersebut menjadi bagian dari dinamika diplomasi yang berlangsung selama KTT SCO di Bishkek.

Rangkaian agenda itu sekaligus memperlihatkan semakin kuatnya hubungan antarnegara yang tergabung dalam jaringan SCO.

Di tengah persaingan ekonomi dan politik global, forum tersebut menjadi salah satu wadah bagi Rusia, Tiongkok, Iran, serta negara-negara mitra lainnya untuk memperkuat koordinasi dan kerja sama.

Baca Juga: TPG Juli 2026 Masih Belum Masuk Rekening? Hak Guru Dipastikan Tidak Hangus

Pertemuan di Bishkek pada akhirnya memperlihatkan adanya perkembangan poros kekuatan baru dalam politik internasional.

Kekuatan tersebut berupaya memperbesar pengaruhnya sekaligus menantang dominasi ekonomi dan politik negara-negara Barat di tengah perubahan konstelasi geopolitik dunia. (Angga/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
vladimir putin xi jinping shanghai ktt