RADAR BOGOR - Tak terasa hari ini sudah tanggal 16 September 2026.
Hari Ozon Sedunia pun kembali diperingati.
Namun, peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau sekadar menjadi pengingat tahunan.
Baca Juga: Cari Tempat Makan Unik di Bogor? Bumi Semboja Resto Punya Suasana Klasik dan Menu Menggoda
Lebih dari itu, Hari Ozon Sedunia menjadi momentum untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, yang bisa dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Ya, ozon berada jauh di atas kepala kita.
Tak terlihat, tak terdengar dan nyaris tak pernah menjadi bahan pembicaraan sehari-hari.
Tapi, keberadaannya jadi salah satu pelindung penting kehidupan di bumi dari radiasi ultraviolet Matahari.
Karena itulah, Hari Ozon Sedunia semestinya tidak berhenti pada seremoni, spanduk, seminar, atau unggahan media sosial.
Peringatan ini, justru layak menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mengganggu yakni apakah manusia benar-benar sudah belajar menghormati lingkungan, atau kita hanya pandai memperingatinya?
Ketika Kenyamanan Menjadi Kebiasaan
Ada ironi besar dalam kehidupan modern.
Kita ingin rumah semakin sejuk, kendaraan semakin nyaman, barang semakin mudah diperoleh, dan teknologi semakin canggih.
Tapi, di balik kenyamanan itu terdapat konsumsi energi, penggunaan bahan pendingin, produksi barang, limbah, serta emisi yang tidak selalu kita pikirkan.
Pendingin udara menjadi contoh paling dekat.
Baca Juga: Perbedaan Honda Vario 160 Generasi Pertama dan Vario 160 Evo, Sekilas Mirip Ternyata Banyak Beda
Kita menyalakan AC ketika panas, tapi tidak selalu peduli apakah peralatannya dirawat dengan baik.
Kita menikmati udara sejuk, tapi persoalan efisiensi energi dan pengelolaan refrigeran sering dianggap sebagai urusan teknisi atau pemerintah.
Padahal, sektor pendinginan merupakan bagian penting dalam upaya melindungi lapisan ozon sekaligus mengurangi dampak terhadap iklim.
Amandemen Kigali yang disepakati pada 2016 mendorong pengurangan penggunaan HFC, gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global tinggi.
Tahun 2026 menandai satu dekade sejak kesepakatan tersebut.
Di sinilah Hari Ozon seharusnya menjadi cermin.
Persoalan lingkungan tidak selalu bermula dari pabrik besar, proyek raksasa, atau kebijakan pemerintah.
Ia juga dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan jutaan orang setiap hari.
AC yang tidak dirawat.
Energi yang digunakan berlebihan.
Peralatan elektronik yang dibuang sembarangan.
Baca Juga: KKS Lama Tidak Cair Bertahun-tahun Kini Aktif Lagi, Ini Penyebab Status Exclude Bisa Berubah
Kendaraan pribadi yang digunakan untuk perjalanan yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau transportasi umum.
Satu tindakan mungkin tampak kecil.
Tetapi lingkungan mengenal akumulasi.
Jangan Selalu Menunjuk Pemerintah
Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar.
Aturan lingkungan harus ditegakkan, pengawasan harus berjalan, industri harus dikontrol, dan masyarakat harus memperoleh edukasi yang memadai.
Jangan sampai, kebijakan lingkungan hanya berhenti di atas kertas.
Industri juga tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab.
Keuntungan, tak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan ketika produk dan teknologi yang dihasilkan memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Peralihan menuju teknologi pendinginan yang lebih efisien dan berkelanjutan harus menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Baca Juga: 5 Bansos Cair Pertengahan September 2026, dari PKH hingga BLT Dana Desa
Namun, masyarakat pun tak bisa terus berdiri sebagai penonton.
Ada tanggung jawab yang dimulai dari rumah.
Menggunakan listrik secara bijak.
Merawat AC dan lemari pendingin.
Memastikan penanganan refrigeran dilakukan secara tepat.
Tidak sembarangan membuang peralatan elektronik.
Mengurangi penggunaan barang sekali pakai.
Memilih moda transportasi yang lebih efisien ketika memungkinkan.
Bukan karena satu rumah tangga dapat menyelamatkan bumi sendirian.
Melainkan, karena perubahan besar memang selalu membutuhkan jutaan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Ozon Mengajarkan Satu Hal Penting
Ada alasan mengapa kisah perlindungan ozon patut dipelajari.
Protokol Montreal menunjukkan, persoalan lingkungan yang melintasi batas negara dapat ditangani melalui kerja sama internasional, kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, pembiayaan, pengawasan, dan perubahan teknologi.
UNEP menyebut, Protokol Montreal telah mendorong penghentian bertahap hampir 99 persen zat perusak ozon yang dikendalikan.
Baca Juga: Warung Nini Kisamaun Tangerang, Kuliner Baru Bernuansa Jawa yang Estetik dan Instagramable
Perjanjian itu menempatkan lapisan ozon pada jalur pemulihan.
Pelajarannya sederhana, ketika manusia mau bekerja sama, kerusakan lingkungan bukan sesuatu yang selalu mustahil diperbaiki.
Tetapi keberhasilan itu bukan alasan untuk lengah.
Justru sebaliknya.
Ketika satu persoalan berhasil dikendalikan, jangan sampai manusia menciptakan persoalan baru melalui cara hidup yang sama-sama tidak terkendali.
Amandemen Kigali menjadi bagian dari bab berikutnya.
Pengurangan HFC dan peningkatan efisiensi energi di sektor pendinginan diarahkan agar kebutuhan manusia untuk mendapatkan udara sejuk tidak sekaligus memperbesar tekanan terhadap iklim.
Dari Hari Peringatan Menjadi Perubahan
Maka, pertanyaan pada 16 September bukan sekadar, "Apa tema Hari Ozon Sedunia tahun ini?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang berubah setelah peringatan ini selesai?
Apakah kita lebih bijak menggunakan energi?
Apakah perangkat pendingin di rumah dirawat dengan benar?
Apakah industri semakin serius menggunakan teknologi yang efisien dan berkelanjutan?
Apakah pemerintah benar-benar mengawasi pelaksanaan aturan?
Apakah masyarakat memahami bahwa limbah elektronik dan peralatan pendingin tidak boleh diperlakukan seperti sampah biasa?
Dan yang paling penting, apakah kita bersedia mengubah kebiasaan sendiri?
Hari Ozon Sedunia 2026 mengusung tema “Global Action for a Cooler Planet”, sekaligus memperingati 10 tahun Amandemen Kigali.
Pesannya jelas, kebutuhan manusia terhadap pendinginan harus berjalan bersama dengan perlindungan lingkungan.
Baca Juga: Desil Rendah Tapi Bansos PKH dan BPNT Tidak Cair? Ini Penjelasan Pendamping PKH
Karena itu, 16 September jangan hanya menjadi tanggal yang ramai sehari lalu dilupakan.
Jangan sampai kita bangga menceritakan keberhasilan dunia menyelamatkan lapisan ozon, sementara pada saat yang sama kita terus menjalani gaya hidup yang menciptakan persoalan lingkungan baru.
Bumi tidak membutuhkan lebih banyak seremoni.
Bumi membutuhkan kebiasaan yang berubah, kebijakan yang dijalankan, industri yang bertanggung jawab, dan masyarakat yang tidak lagi menganggap persoalan lingkungan sebagai urusan orang lain.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan tentang ozon bukan hanya tentang apa yang terjadi di lapisan atmosfer.
Pertanyaan yang lebih dekat, apakah kesadaran manusia juga sedang mengalami pemulihan? (*)
Lucky Lukman Nul Hakim, Pemimpin Redaksi radarbogor.jawapos.com
Editor : Siti Dewi Yanti