Sebelum ke Erfurt di Negara Bagian Thuringen, Jerman, para peneliti GreenTrans Edu berkunjung ke Université de Technologie de Compiègne (UTC), alias Universitas Teknologi Compiègne.
Tidak hanya berdiskusi dan berjejaring, mereka juga berkunjung ke kastil tua dan menjelajahi kuliner Prancis. Bagaimana keseruannya?
Oleh: Achmad Supardi
Compiegne adalah kota sangat kecil untuk ukuran Indonesia.
Kota berjarak sekitar 80 km dari Paris ini hanya berpenduduk sekitar 40 ribu jiwa.
Baca Juga: Science Camp 2 GreenTrans Edu (1): Menjajal Tram, Belajar Pengolahan Tanah di Erfurt
Meski demikian, geliatnya tidak kalah dari kota-kota besar.
Apalagi, di kota ini terdapat Château de Pierrefonds, kastil abad pertengahan yang dibangun akhir abad ke-14, dihancurkan pada abad ke-17, dan direkonstruksi kembali di abad ke-19.
Berdiri sebagai puri kecil yang dibangun Keluarga Nivelon de Pierrefonds pada abad ke-12, bangunan ini lalu dipugar oleh adik Raja Charles VI, yakni Louis d'Orléans sejak 1397.
Louis membangun kembali kastil ini menjadi benteng pertahanan yang megah, untuk melindungi jalur dari invasi selama Perang Seratus Tahun antara warga Protestan dan Katolik.
Selama perang agama itu, kastil ini sempat beberapa kali berpindah tangan, termasuk mengalami penghancuran oleh Raja Louis XIII pada tahun 1617 karena pemiliknya saat itu, François-Annibal d'Estrées, bergabung dengan kelompok yang menentangnya.
Setelah dua abad dibiarkan sebagai reruntuhan, Eugène Viollet-le-Duc pada tahun 1857 merekonstruksinya atas perintah Napoleon III.
Viollet-le-Duc mendesain ulang kastil ini ala negeri dongeng dengan menara-menara lancip, patung gargoyle, dan interior penuh dekorasi artistik khas abad pertengahan versi romantis.
Ke kastil inilah peserta Science Camp 2 GreenTrans Edu sempat berwisata.
Sebelumnya, mereka mendengarkan sejumlah paparan mengenai upaya-upaya pengarusutamaan sustainability di UTC.
Baca Juga: Game Online Bisa Picu Radikalisme Digital, Psikolog Sarankan Orang Tua Lakukan Hal Ini
Peserta juga menggelar pertemuan dengan kantor urusan internasional dan jajaran pimpinan UTC, membahas peluang kerja sama jangka panjang.
Rombongan juga mengunjungi Komisi Eropa di Brussel untuk membahas proses pembuatan kebijakan EU.
Prof. Dr. Martin Morgeneyer, anggota klaster sekaligus pemegang Jean Monnet Professorship di UTC menyebut penting sekali bagi rombongan untuk memiliki pengalaman langsung tentang bagaimana proses pembuatan kebijakan di EU berlangsung dan nilai-nilai apa yang memandunya.
“Kami terlibat dalam diskusi yang sangat aktif selama kunjungan ke Komisi Eropa, dan menurut saya bagus juga bahwa Komisi menerima masukan mengenai kebijakannya dari perspektif rekan-rekan ASEAN," kata Martin.
Sekitar 25 ilmuwan dan mahasiswa dari enam universitas di Uni Eropa (EU) dan ASEAN berkumpul untuk melakukan penelitian tentang energi terbarukan, kualitas tanah, dan komunikasi keberlanjutan.
Beberapa hasil penelitian bersama ini akan menjadi dasar bagi modul pengajaran inklusif tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development).
Klaster ini merupakan inisiatif yang didanai oleh EU di bawah Paket Konektivitas Berkelanjutan EU-ASEAN, Program Pendidikan Tinggi (SCOPE-HE), yang bertujuan memperkuat kerja sama dan konektivitas berkelanjutan antara EU dan ASEAN yang diimplementasikan oleh Nuffic dan DAAD.
Nuffic Belanda dan DAAD Jerman adalah lembaga yang mendorong kerja sama bidang pendidikan, termasuk dalam bentuk pendanaan penelitian dan beasiswa pendidikan tinggi.
ASEAN sendiri menjadi kawasan yang makin penting bagi Uni Eropa, apalagi ketika sumbu ekonomi dan politik bergerak ke Asia Timur.
Baca Juga: Haaland Tak Cukup, PSG Bungkam Manchester City di Kandangnya Sendiri 4-2
Perguruan tinggi di ASEAN didorong untuk mendapatkan hibah penelitian kompetitif yang didanai EU seperti SCOPE-HE ini.
Para ilmuwan dan mahasiswa GreenTrans Edu tiba di Compiegne setelah perjalanan sekitar 12 jam dari Ilmenau, Jerman. Di malam pertama mereka dijamu UTC dengan three course meal di sebuah bistro.
Rombongan berkesempatan mencicipi kanape foei gras, makanan utama berbahan salmon, hingga crème brule dan kudapan pencuci mulut lainnya. (berlanjut)
Penulis adalah dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang
Editor : Siti Dewi Yanti