Science Camp 2 GreenTrans Edu (3): Ilmenau, 'Desa Kecil' Berdegub Kencang

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:34 WIB
Suasana kota Ilmenau yang sepi. TU Ilmenau menjadi salah satu penggerak utama kota ini. (foto: Achmad Supardi)
Suasana kota Ilmenau yang sepi. TU Ilmenau menjadi salah satu penggerak utama kota ini. (foto: Achmad Supardi)

Perjalanan kolaboratif tim peneliti GreenTrans Edu selama 13 hari di 3 negara Eropa bermula di Ilmenau. 

Inilah kota yang saking kecilnya untuk ukuran Indonesia sering secara bercanda disebut “desa”. 

Namun, di “desa kecil” inilah terdapat Technische Universität (TU) Ilmenau yang memompa ekonomi dan detak sosial wilayah sekitarnya. 

Oleh: Achmad Supardi

Ilmenau memang kecil.

Meski merupakan kota terbesar di Distrik Ilm, Negara Bagian Thuringen, Jerman, namun populasinya hanya sekitar 38.600 jiwa.

Baca Juga: Science Camp 2 GreenTrans Edu (2): Menjelajah Kastil Tua, Mencari Tahu Keinginan Uni Eropa

Tapi, justru di “desa kecil” di tepi pegunungan rendah berhutan indah yang sepi ini lahir penyair Goethe dan TU Ilmenau.

Dengan jumlah mahasiswa sekitar 4000-an orang, TU Ilmenau adalah universitas kecil, karenanya menjadi koordinator Smaller (strategic) Universities Network for Regional Innovative and Sustainable Evolution.

Aliansi yang disingkat SUNRISE ini adalah kerja sama dari 9 perguruan tinggi berukuran kecil di Eropa yang terletak di wilayah non-metropolitan.

Ukurannya yang kecil diyakini membuat mereka lebih lincah dan dengan bekerja sama akan menciptakan dampak yang tak kalah dari Universitas-universitas besar. 

TU Ilmenau membuktikannya.

Salah satnya, dengan menjadi pimpinan Proyek Paket Konektivitas Berkelanjutan UE-ASEAN, Program Pendidikan Tinggi (SCOPE-HE) yang bertujuan memperkuat kerja sama dan konektivitas berkelanjutan antara Uni Eropa (EU) dan ASEAN dengan pendanaan melalui Nuffic dan DAAD. 

Melalui SCOPE-HE, TU Ilmenau menggandeng dua universitas lain di Eropa, yakni Fachhochschule (Universitas Ilmu Terapan atau FH) Erfurt (Jerman) dan Université de Technologie de Compiègne (UTC).

Baca Juga: Status SI dan SPM di SIKS-NG Oktober 2026, Apakah Tanda Tahap 4 Cair?

Mereka juga menggandeng tiga rekanan dari ASEAN, yakni Mindanao State university (Filipina), serta Universitas Pancasila dan Universitas Presiden (Indonesia). 

Dari 28 September hingga 10 Oktober, TU Ilmenau menjadi tuan rumah bagi para mitra dari Klaster GreenTrans-Edu dalam rangka Science Camp kedua dan kunjungan mitra strategis.

Presiden TU Ilmenau, Prof. Dr.-Ing. habil. Kai-Uwe Sattler, menyambut delegasi di TU Ilmenau dan menyoroti relevansi jaringan serta kerja sama internasional bagi universitas tersebut. 

Sekitar 25 ilmuwan dan mahasiswa dari enam universitas di UE dan ASEAN berkumpul untuk melakukan penelitian tentang energi terbarukan, kualitas tanah, dan komunikasi keberlanjutan.

Beberapa hasil penelitian bersama ini akan menjadi dasar bagi modul pengajaran inklusif tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development) atau lebih populer dengan sebutan GreenTrans Edu. 

Selama kegiatan tersebut, para ilmuwan dari ASEAN dan EU tidak hanya melanjutkan proyek penelitian bersama mereka namun juga melihat fasilitas penelitian dan pengajaran di universitas mitra mereka di Eropa. 

"Jaringan personal, pengembangan perspektif penelitian bersama, dan pemahaman tentang struktur universitas mitra sangatlah relevan untuk kemitraan jangka panjang antar-universitas yang memiliki sistem dan budaya akademik berbeda. Ini adalah salah satu tujuan yang ingin kami capai melalui kegiatan ini," ujar Prof. Dr. Jens Wolling dari TU Ilmenau yang memimpin klaster GreenTrans Edu.

Selama di Thuringen, rombongan sempat melakukan ekskursi ke Hutan Thuringia yang dilindungi. Saking dilindungi hingga untuk masuk ke sana perlu izin khusus.

Bagi Camar Ameril, peneliti kualitas tanah dari Mindanao State University, Filipina, ini pengalaman yang sangat penting dan menarik. 

Baca Juga: Science Camp 2 GreenTrans Edu (1): Menjajal Tram, Belajar Pengolahan Tanah di Erfurt

“Ini pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, karena saya dapat melihat langsung tantangan keanekaragaman hayati yang sedang terjadi saat ini, serta bagaimana para ilmuwan di perguruan tinggi berkontribusi dalam memecahkan masalah tersebut. Ini menunjukkan relevansi praktis dari penelitian yang kami lakukan," katanya. (Tamat) 

Penulis adalah dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang

Editor : Siti Dewi Yanti
Achmad Supardi Erfurt GreenTrans Edu jerman