Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Tertibkan Lapak PKL di Bandung Lewat Pendekatan Humanis Dibarengi Solusi
Ahmad Susandi• Sabtu, 12 April 2025 | 19:16 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menertibkan PKL.
RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali mencuri perhatian publik, kali ini melalui langkah beraninya menertibkan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) yang menempati trotoar di kawasan Jalan Pasteur, Kota Bandung.
Bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Dedi melakukan inspeksi mendadak dan langsung membongkar lapak semi permanen yang dinilai mengganggu hak pejalan kaki.
Namun, yang menarik dari penertiban kali ini bukan hanya ketegasannya, melainkan pendekatan yang digunakan.
Alih-alih menggunakan kekuatan aparat atau tindakan represif, Dedi memilih jalur dialog dan empati.
Dalam sebuah video yang di unggah dalam akun Instagram @dedimulyadi71, Dedi Mulyadi terlihat berbincang langsung dengan seorang ibu penjual nasi bungkus.
Ia menawarkan kompensasi sebesar Rp4,7 juta agar sang ibu bisa berhenti berjualan sementara waktu selama satu bulan.
Tak hanya itu, Dedi bahkan menawarkan pekerjaan kepada suami sang pedagang sebagai petugas kebersihan dengan gaji tetap setiap bulan.
“Kita tidak ingin menggusur, tapi menata. Kota ini harus tertib, tapi manusianya juga harus tetap bisa hidup,” ujar Dedi dalam pernyataannya.
Penertiban ini adalah bagian dari upaya mengembalikan fungsi trotoar sebagai ruang publik bagi pejalan kaki.
Selama ini, akses trotoar kerap terabaikan karena desakan ekonomi warga yang mencari nafkah di ruang yang seharusnya steril dari aktivitas niaga.
Hasil dari inspeksi tersebut langsung terlihat, trotoar yang sebelumnya dipenuhi bangunan semi permanen kini bersih dan kembali bisa digunakan sebagaimana mestinya.
Langkah Dedi Mulyadi ini bukan hanya soal penertiban ruang kota, melainkan juga cermin kepemimpinan yang peduli pada nilai kemanusiaan.
Ia menunjukkan bahwa ketegasan tidak harus identik dengan kekerasan, dan bahwa perubahan bisa dilakukan lewat komunikasi yang tulus serta solusi yang realistis.***