RADAR BOGOR - Tak mudah menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat, namun Dedi Mulyadi berjanji akan terus bekerja maksimal dalam berbagai pelayanan.
"Saya ingin dikatakan pak Dedi santri mengajarkan syariat Islam, ketika orang-orang Jawa Barat enggak ada yang lapar," jelas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
"Orang-orang Jawa Barat pada sekolah, jalannya pada bagus, rumah-rumahnya pada terurus, semua hidupnya bahagia," ungkap Dedi Mulyadi.
Selain itu, kata Dedi Mulyadi, meninggalnya pun di rumah sakit menulis surat untuk gubernur.
"Terima kasih, Pak. Saya sudah sampai pada puncak pengobatan yang tertinggi di rumah sakit ini," tutur Dedi Mulyadi saat memimpin upacara bersama ASN.
"Saya lihat saldo, argo rumah sakit sudah mencapai Rp130 juta, tetapi ternyata rupanya penyakit saya sulit disembuhkan," sambung Dedi Mulyadi.
"Dan saya harus menyebut takdir kematian ini dengan penuh kebahagiaan karena negara sudah hadir," tutur Dedi Mulyadi.
"Pada saat saya sakit, saya doakan seluruh jajaran Provinsi Jawa Barat, kabupaten, kota, dokter, dan para medisnya bahagia dan keluarganya sejahtera," papar Dedi Mulyadi.
"Izinkan, saya menghadap Allah dalam keadaan bahagia karena negara menurut saya sudah keren," tambah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi, ada bayi kembar siam yang dijadwalkan akan dioperasi pemisahan tubuhnya.
Bayi tersebut, kata Dedi Mulyadi, anak dari guru honorer asal Kabupaten Tasikmalaya yang dioperasi dengan biaya lebih dari Rp1 miliar.
"Itu free dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, karena saya berkomunikasi dengan menteri, selesai. Penting. Rp1 miliar dari mana? Sudah. Ini penting. Oh, negara hadir. Oh, provinsi hadir. Oh, menteri hadir. Oh, negara hadir," tegas Dedi Mulyadi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim