RADAR BOGOR - Banyak kenangan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bersama keluarga terutama sang ibunda.
"Di antara kita ini, banyak yang enggak punya ibu. Sudah meninggal ibunya. sudah meninggal bapaknya," ungkap Dedi Mulyadi saat bersama para ASN di Gedung Sate.
Dedi Mulyadi mengaku, selalu ingat dalam kaidah-kaidah yang diajarkan ibunya.
"Kalau Emih sudah tidak ada, maka kamu tidak boleh berhenti untuk memberi pada Emih walaupun misalnya tidak pernah meminta. Pada siapa kita memberi? Pada orang yang sebaya ibu kita. Dan kecintaan dan kerinduan pada seorang ibu akan senantiasa hadir dalam setiap waktu," tutur Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut Dedi Mulyadi mengungkapkan, tempat kehadiran tersebut bukan hanya hadir menjadi sebuah romantika yang mengenang masa lalu dalam narasi-narasi cerita di media sosial (Medsos) yang tanpa makna, kalau tidak buat aksi nyata.
"Saya ingin apa yang saya rasakan dirasakan oleh semua ASN (Aparatur Sipil Negara). Memberi tidak akan pernah mengurangi, lakukan dengan ikhlas apalagi pada orang tua yang sebaya dengan ibu kita," tutur Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi, mulai 11 April 2025 di Cianjur dirinya sudah ngajak kepada semua ASN baik pejabat maupun non pejabat.
"Tapi ikhlas saja, kalau terpaksa jangan, cari ibu-ibu yang usianya 55 tahun ke atas yang tidak punya kemampuan. Jadikan ibu asuh kita semua, yang dalam setiap bulan pada waktu rileks kita berkunjung ke rumahnya bertemu dengan dia, sekadar bertanya," jelas Dedi Mulyadi.
"Berilah dia sesuatu mau Rp50.000, mau Rp100.000, mau ganti dengan makanan, mau ganti dengan bingkisan ya terserahlah. Ikhlas," tutur Dedi Mulyadi.
"Saya hidup sampai pada puncak di sini itu tidak pernah terlepas dari doanya kaum ibu," sambung Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi menceritakan, pengalamannya bahwa ada seorang ibu yang tidur di bawah pohon beringin di sebuah makam dengan rumah terbuat dari plastik dan sampai meninggal dirinya yang mengurus karena mengingatkan pada ibunya.
Menurut Dedi Mulyadi, ibu tersebut dibuang oleh anaknya setelah warisannya dijual, kemudian dibuang di pinggil rel kereta api dalam gubuk kecil.
Sang ibu tersebut, kata Dedi Mulyadi, sudah tidak bisa melakukan apapun sehingga dirinya mengurus sampai akhirnya meninggal.
"Seluruh kenangan itu menjadi kehidupan yang romantis dan menjadi spirit kebahagiaan dalam diri saya, bahkan menjadi spirit kehidupan seolah masalah itu akan bisa dilewati dengan cara-cara seperti itu," kata Dedi Mulyadi.
"Kalau saya ditanya, bagaimana saya selesai menghadapi masalah seberat apapun? saya selalu mengatakan gampang. Nanti pada puncak kesulitan itu saya tinggal datang ke makam ibu saya. Saya menangis dan mencium makamnya dengan penuh rasa haru. Seolah-olah ibu saya ada di sini," tutur Dedi Mulyadi.
"Nanti orang bertanya, Itu kan musyrik. Kalau musyrik kita tidak boleh mencium surat cinta yang dikirim oleh pacar kita. Itu juga musyrik," jelas Dedi Mulyadi.
"Kalau musyrik, kalau video call tidak boleh juga mencium ponselnya enggak boleh juga. Itu musyrik," ungkap Dedi Mulyadi.
"Kenapa? karena benda itu bersemayam orang yang kita cintai. Maka benda itu menjadi representasi dari orang itu. Ada dikirimlah bunga mawar, kan dicium bunganya. Ini narasi kebahagiaan," ujar Dedi Mulyadi.
Untuk itu, Dedi Mulyadi ngajak pada semua ASN agar menyanyangi ibu.
Dedi Mulyadi juga menyinggung era abad media sosial.
"Kalau Anda suka ya pakai, bikin cerita. Bila perlu ketika Anda berjalan bertemu dengan siapa itu lebih indah. Dibuat cerita. Kalau yang senang bikin video, buat cerita dalam video. Apakah di YouTube, apakah di IG, apa di TikTok menjadi cerita," papar Dedi Mulyadi.
Bahkan, kata Dedi Mulyadi, berkunjung tiap bulan menjadi cerita.
"Bawa anak-anak Anda agar anak Anda peka terhadap lingkungan. Anak Anda ajarkan bahwa hidup itu susah. Jangan lagi menghamburkan uang di rumah karena lihat orang. Ikhlas ya biar Allah yang membalas," ungkap Dedi Mulyadi.
Kepada para ASN, Dedi Mulyadi menegaskan, video yang indah tersebut akan diber hadiah Rp100 juta pada tanggal 22 Desember 2025.
"Video terindah saya kasih Rp100 juta nanti biar muncul, daripada tiktokan enggak jelas," kata Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut Dedi Mulyadi mengatakan, Sekda Provinsi Jawa Barat akan mengimbau agar di kabupaten dan kota supaya bupati serta wali kota memberi hadiah pada pegawai.
"Untuk apa? mari kita bangun negeri ini. Kita bangun Provinsi Jawa Barat ini dengan cinta. Sudahlah. Sudahlah dengan itu. Kenapa? hanya dengan itu hidup ini akan terasa indah dan hanya dengan itu. Setiap saat orang akan menikmati kebahagiaan tanpa harus pergi ke luar negeri," pungkasnya, (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim