Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Supir Tambang Blak-blakan Lapor ke Gubernur Jawa Barat Soal Penghasilan yang Semakin Tipis, Dedi Mulyadi: Preman Masih Ada Engga

Siti Dewi Yanti • Sabtu, 19 April 2025 | 06:20 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat berdiskusi dengan supir truk tambang tanah galian di dekat Jalan Kalijati
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat berdiskusi dengan supir truk tambang tanah galian di dekat Jalan Kalijati

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengunjungi perusahaan tambang yang berada di dekat Tol Kalijati.

Kunjungan ini merupakan kunjungan kedua, setelah ia tiba-tiba mendatangi perusahaan tambang tersebut untuk melihat lokasi dan standar kerja yang digunakan.

Saat berkunjug, Dedi Mulyadi bertemu dengan sejumlah supir yang tengah mengantre tanah galian untuk dibawa.

"Ini orang mana?" tanyana.

"Bandung, Cianjur, Bogor, Nagrek," jawab beberapa supir.

Dedi Mulyadi menanyakan uang yang biasa supir dapatkan sehari-hari.

"Sehari supir dapat Rp300 ribu? tanyanya

"Boro-boro pak," ungkap supir. Satu rit, Rp150 ribu sisanya. Itu kotor, belum makan," tambah supir lainnya.

Soal pendapatan supir, Dedi menyebutkan, tidak sebanding.

"Jadi antara kerusakan lingkungan, kerusakan jalan. Sebenarnya kalua ngomong ekonomi kerakyatan engga sebanding dengan sopir. karena sopir sekarang tipis ya," tuturnya.

Dedi menanyakan, faktor-faktor yang membuat pendapatan supir berkurang.

"Bbm, tolnya mahal, yang ketiga, preman masih ada engga?" tanyanya.

"Masih," kata sejumlah supir.

"Apa aja?" tanya Dedi.

Para supir menjelaskan pungutan-pungutan yang harus dibayarkan.

"Keluar dari sini, yang pertama Rp45 ribu, cecker," ungkap supir.

"Ceckernya punya siapa?" tanya Dedi.

"Engga tahu Pak, orang galian sini," ucap supir.

"Kan supir mah engga ada kaitan dengan jual beli galian," tambah Dedi.

"Betul, iya," jawab para supir kompak.

Dedi menanyakan, siapa yang menerima uang Rp45 ribu.

"Masuknya ke siapa yang Rp45 ribu?" tanyanya.

"Engga tahu pak," ujar para supir.

"Kan supir mah tugasnya ngangkut. Urusan DO dari tanah yang diangkut kan urusan yang beli dan jual. Jadi nambah tonase itu untuk mengurangi beban Rp45 ribu itu," tambah Dedi

"Betul," sebut supir.

"Keluar Rp45 ribu bayar, ke siapa?" tanya Dedi.

"Sampai Rp65 ribu, ada banyak juga, ada kadang karang taruna juga pak. Jadi ada warga, kita kasih ikhlas Rp10 ribu untuk membantu supir pasang terpal," jawab supir.

Dedi menanyakan juga kehadiran preman yang kerap meminta uang.

"Masih ada preman engga?" tanya Dedi.

"Engga ada, kita diwajibkan bayar aqua," cerita para supir.

"Bayar aqua berapa?" tanya Dedi.

"Rp10 ribu," jawab supir.

"Kalau tidak beli," tambah Dedi.

"Ya, engga bisa," pungkas supir.

Dedi menjelaskan, saat ini jalan provinsi rusak dan supir harus menanggung sejumlah pungutan.

"Jalan provinsi rusak, bayar aqua Rp10 ribu, operator bayar Rp5 ribu, DO Rp45 ribu, ke siapa?" tanya Dedi.

"Ke cecker buat jalan," jawab supir serentak.

Gubernur Jawa Barat sempat menanyakan perasaan para supir terkait jalan yang rusak.

"Semuanya supir di sini harus mengeluarkan uang Rp75 ribu. Liat jalan rusak sedih engga? Liat jalan kotor sedih engga?"

"Sedih," jawab para supir.

"Supir kepanasan kebagian hitamnya saja, yang kaya para juragan," pungkas Dedi Mulyadi.

Sebagai informasi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendatangi perusahaan penambangan tanah untuk melihat standar kerja yang dilakukan.

Ia juga akan mengevaluasi izin perusahaan terkait kewajiban perusahaan.

 

Editor : Siti Dewi Yanti
#dedi mulyadi #supir truk tambang #Jalan Kalijati #gubernur jawa barat #Penghasilan #pungutan