RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menghadiri undangan pernikahan Wakil Ketua DPR RI.
Dalam pernikahan tersebut, Dedi Mulyadi juga menjadi saksi dalam ijab kabul pernikahan.
Selain Dedi Mulyadi, hadir juga para pejabat pemerintahan lainnya, dan Dedi tampak bertemu dengan Menteri Agama, Nasaruddin Umar.
Dalam unggahan YouTube Lembur Pakuan Channel, Dedi Mulyadi tampak berpidato di hadapan jemaat gereja.
Pidato Dedi Mulyadi disampaikan dalam dua momentum penting, yakni pernikahan anak Wakil Ketua DPR RI dan kunjungannya ke Gereja Bethel Indonesia (GBI) Makarwangi, Bandung.
Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi membawa tiga pesan kunci yang merangkum nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan lingkungan hidup.
Berikut 3 hal yang disampaikan Dedi Mulyadi:
1. Cinta dan Keyakinan Adalah Hak yang Tak Bisa Diadili
Dedi Mulyadi membuka pesannya dengan refleksi spiritual tentang hakikat keyakinan dan cinta.
Menurutnya, keyakinan adalah wilayah pribadi yang tidak bisa dihakimi oleh siapapun.
“Kita tidak bisa mengukur keyakinan orang lain dengan cara kita meyakini. Tidak bisa mengukur rasa cinta orang lain dengan rasa cinta kita,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia menyebut bahwa kebenaran spiritual bersifat universal dan tidak bisa dipersepsikan secara seragam. “Cinta adalah kebebasan. Tidak boleh dikekang, tidak boleh dibatasi,” tegasnya.
2. Tobat Ekologi: Kerusakan Alam adalah Dosa Kolektif
Dedi Mulyadi lalu mengalihkan perhatian kepada isu yang jarang disentuh dalam mimbar keagamaan, yaitu kerusakan lingkungan.
Ia menyebut bahwa dosa terbesar manusia hari ini adalah pada alam semesta.
“Kita merusak gunung, mencemari sungai, melukai tanah dengan beton. Lalu kita berdoa di masjid dan gereja, merasa diri paling beriman, tapi tetap membuang limbah ke Citarum. Bohong ibadah kita!” katanya.
Ia mengajak semua pihak, termasuk tokoh agama, untuk memulai gerakan tobat ekologis.
“Mari kita bertobat. Tobat ekologis. Bukan sekadar tren go green, tapi gaya hidup, bentuk spiritualitas,” katanya.
Ia menekankan bahwa seluruh bencana ekologis tidak memandang suku atau agama, semuanya terkena dampaknya.
3. Isu Lingkungan dan Masalah di Masyarakat
Penutup pidato Dedi Mulyadi menyentuh sisi kemanusiaan yang kerap luput, penghargaan terhadap para pekerja informal seperti sopir, pembantu rumah tangga, hingga satpam.
“Mereka menunggu kita di mobil, memasak untuk kita, menjaga rumah kita, bahkan mengorbankan waktu bersama anak dan istri mereka sendiri demi kenyamanan kita,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia menyentil gaya hidup masyarakat yang sibuk menumpuk kekayaan dan membeli barang mewah, tapi menunda memberi THR kepada pembantunya.
“Pokoknya jangan beli skincare mahal-mahal selama kasih gaji pembantu masih dicicil,” ujar Dedi Mulyadi, yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan jemaat.
Pesan-pesan Dedi Mulyadi bukan sekadar ceramah, melainkan refleksi mendalam atas kondisi sosial, spiritual, dan ekologis bangsa.
Ia mengingatkan bahwa menjadi manusia tidak cukup hanya dengan ibadah yang khusyuk, tapi juga dengan tindakan nyata menghormati bumi, sesama, dan perbedaan.
Dengan gayanya yang khas, Dedi Mulyadi tidak hanya mengajak berpikir, tapi juga mengajak bertindak.***
Editor : Eli Kustiyawati