RADAR BOGOR - Warga Cianjur beramai-ramai mengunjungi kediaman Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk mengadukan masalah keuangan yang menjerat sejumlah masyarakat.
Dalam pembicaraan tersebut, salah satu petani menjelaskan, beberapa warga tengah menghadapi utang di bank dengan nilai Rp45 juta.
Nyatanya, mereka hanya mendapat fasilitas berupa barang senilai Rp5 juta, tanpa mengetahui nilai utang di bank mencapai puluhan juta rupiah.
Mendengar hal tersebut, Dedi Mulyadi menuturkan, para petani tersebut menjadi korban penipuan.
Berdasarkan perhitungan petani yang mendatangi rumah Gubernur Jawa Barat, nilai pinjaman melalui PT C sekitar Rp485 juta.
"Yang ke sini saja sudah Rp485 juta," sebutnya.
Dedi menyebutkan, skema seperti ini termasuk kredit yang macet di BJB.
"Ini tuh termasuk kredit yang macet di BJB, Fintech. Model begini yang ngerusak Bank BJB," paparnya.
Dedi menyebutkan, skema ini bisa mengorbankan para petani.
"Mengorbankan petani iya, kalau BIB ngasih pinjem Rp10 juta langsung ke petani, udah pada lunas," ujarnya.
Gubernur Jawa Barat mengatakan, untuk tidak terlalu percaya kepada orang yang mengatas-namakan program-program tertentu.
"Memang di urang teh, enggeuslah, tong dipercaya teuing ka jelema-jelema nu atas nama program itu program iyeu. Menang mereun Rp40 miliar mah," tandasnya.
Dedi menuturkan, ia akan menanyakan langsung ke pihak BJB terkait pinjaman siluman ini.
"Nanti saya tanyakan ke BJB, nanti saya beresin, penyakit harus diberesin. Ini orang harus diberesin, nipu rakyat. Pertama nipu bank, dua nipu rakyat," ungkapnya
Menurut Dedi, pihak yang memberikan kredit kepada petani menipu dua pihak.
"Nipu bank, sampai ke rakyat Rp5 juta, ke bank Rp45 juta. Nipu rakyat, dapat uang Rp45 juta, kasih ke rakyat Rp5 juta. Jadi double nipunya," jelasnya.
Dedi menyampaikan, akan mencoba menyelesaikan masalah ini.
"Kami akan siapkan kuasa hukum dan kami akan bertemu dengan Dirut dan Direksi BJB untuk menyelesaikan masalah ini," pungkasnya.
Sebagai informasi, sejumlah petani asal Cianjur dan Ciamis terjerat hutang puluhan juta saat akan melakukan pinjaman.
Berawal dari kekurangan modal untuk bertani, ada seseorang yang berasal dari perusahaan Fintech menawarkan pinjaman berupa barang-barang penunjang pertanian.
Para petani menyetujui akan membayar kredit senilai Rp5 juta rupiah, namun setelah melakukan BI Checking, nama-nama mereka menunggak hutang sebesar Rp45 juta.
Editor : Siti Dewi Yanti