RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kini menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu prioritas untuk menata daerah di Jabar, salah satu caranya dengan mengaktifkan kembali rel kereta api di sejumlah rute di Jawa Barat (Jabar).
Seperti diketahui bahwa di Jawa Barat terdapat sejumlah rute rel kereta api yang sudah lama tidak digunakan, salah satunya rute Bandung-Ciwidey.
Untuk saat ini, jembatan kereta api Bandung-CIwidey tersebut sudah dipakai masyarakat sebagai jembatan penyeberangan pejalan kaki maupun pengguna sepeda motor.
Gubernur Jabar memanfaatkan transportasi kereta api untuk memaksimalkan potensi pariwisata di Jawa Barat.
“Kereta api sebenarnya jalur transportasi yang paling murah,” ucap KDM, sapaan karib Dedi Mulyadi saat Rakor Perkeretaapian.
Selain itu, Dedi juga menilai bahwa kereta api mampu mendukung pariwisata di Jawa Barat karena sifatnya yang massal dan anti macet.
“(Kereta api) Ini pengangkutannya massal, karena pengangkutannya massal mudah memobilisasi orangnya,” lanjut KDM.
Dikutip dari Instagram Humas jabar, berikut ini adalah jalur kereta api Jawa Barat yang siap diaktifkan kembali di era kepemimpinan Dedi Mulyadi:
- Rute Rancaekek – Tanjungsari yang memiliki rute sepanjang 11,5 KM
- Rute Cipatat – Padalarang yang memiliki rute sepanjang 17 KM
- Rute Garut – Cikajang yang memiliki rute sepanjang 28,2 KM
- Rute Bandung – Ciwidey yang memiliki rute sepanjang 37,8 KM
- Rute Banjar – Cijulang yang memiliki rute sepanjang 82 KM.
Kabar baiknya, wacana Gubernur Jawa Barat ini mengenai pengaktifan kembali rel kereta api ini disambut baik oleh pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Risal Wasal menyampaikan bahwa pihak mereka siap berpartisipasi aktif dalam proses pengaktifan jalur kereta di Jawa Barat.
Risal Wasal juga sudah menyiapkan anggaran hingga Rp20 triliun untuk rencana tersebut.
Lebih lanjut, Risal menyampaikan bahwa pihaknya akan berdiskusi lagi dengan Dedi Mulyadi dan juga Pemprov Jabar untuk membahas perencanaan ini.
Namun ada sedikit kekhawatiran khususnya bagi masyarakat yang sudah membangun rumah dan tinggal di jalur kereta api yang sudah tidak beroperasi ini.
Jika jalur kereta api ini resmi diaktifkan kembali, maka masyarakat tersebut akan kebingungan bagaimana nasib tempat tinggal mereka ke depannya.***