RADAR BOGOR - Potensi daun jati di area Cirebon tak lepas dari perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
"Ingat, ketika bicara daun jati, bagaimana Sunan Gunung Jati meletakkan kerangka kebudayaan secara kuat," tutur Dedi Mulyadi di DPRD Kabupaten Cirebon.
"Bagaimana dia meletakkan spiritualitas makanan dibungkus dengan daun jati. Karena, tradisi di Sunda bukan dengan daun jati, tapi daun pisang. Sunda Pakuan," kata Dedi Mulyadi
Lebih lanjut ia mengatakan, Sunda di Cirebon tidak pakai daun pisang karena kayu yang terbaik adalah kayu jati.
Maka, kata Dedi Mulyadi, dari kayu jati itu harus multi dimensi dan multi fungsi agar masyarakat tidak tercerabut dari akar kebudayaannya.
Supaya, sambung Dedi Mulyadi, masyarakat memanfaatkan daun jati.
Bukan hanya ditunggu kayunya, daunnya pun memiliki manfaat.
Tradisi tersebut, dibangun Dedi Mulyadi dalam setiap tahunnya.
"Setiap saya membagikan daging untuk kepentingan rakyat, ketika sebelum hari raya kurban dan setelah hari raya kurban, sejak zaman bupati Purwakarta saya selalu membungkusnya dengan daun jati," tutur Dedi Mulyadi.
"Kalau daun jati itu adalah eksentrik, kalau daun jati adalah spiritualitas, kalau daun jati itu adalah juga nilai-nilai ekologi, di mana dia akan dilebur ke tanah," papar Dedi Mulyadi.
Daun jati, tutur Dedi Mulyadi, kemudian menjadi ekosistem.
"Kenapa tidak dibikin peraturan daerah (Perda) larangan membungkus makanan kecuali dengan daun jati, tidak akan masuk industri plastik," ungkap Dedi Mulyadi.
Apabila tidak masuk industri plastik, menurut Dedi Mulyadi, maka para tukang daun jati akan laku di mana-mana.
"Anak-anak sebelum sekolah menjual daun jati, maka pohon jati akan dipertahankan, tidak akan dicuri dalam setiap waktu," jelas Dedi Mulyadi.
"Inilah perspektif. Karena ini perspektif, maka tradisionalisme itu adalah nilai ekonomi," kata Dedi Mulyadi.
Tetapi, Dedi Mulyadi meminta agar hal tersebut diniatkannya bukan untuk cari uang.
"Niatkanlah bahwa ini bagian dari menghormati leluhur. Kalau niatnya cari duit, nanti kata orang Sunda cul dogdog tinggal igel," imbuh Dedi Mulyadi.
"Nah, kalau kata bahasa Cirebonnya, kalau diniatkan mencari duit nanti jangan-jangan kita lupa pada leluhur, dalam otak kita duit saja dalam setiap waktu.
Inilah perspektif yang harus dibangun," pungkas Dedi Mulyadi. (*)