RADAR BOGOR – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Cianjur, Jawa Barat, turun tangan menangani kasus keracunan massal puluhan pelajar dari dua sekolah yang diduga terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mereka telah memeriksa sepuluh orang, mulai dari pekerja dapur, sopir pengantar, tim memasak dan pengemasan, hingga kepala SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Kecamatan Cianjur.
“Setelah menerima laporan, kami bersama tim dari polsek langsung menuju lokasi. Kami melakukan pengumpulan bahan keterangan dan menyita beberapa sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan,” ujar Kasatreskrim Polres Cianjur AKP Tono Listianto, Kamis (24/4).
Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan Labkesda Kabupaten Cianjur dan Provinsi Jawa Barat untuk melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan serta muntahan pelajar.
Sebanyak 79 pelajar MAN 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur harus dilarikan ke rumah sakit karena mual, pusing, muntahmuntah, dan diare setelah menyantap menu MBG pada Senin (21/4).
Mereka tidak dibawa dalam waktu yang sama ke RSUD Sayang, Cianjur, dan RS Bhayangkara, melainkan secara bergantian.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur sampai menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).
“Penetapan status KLB memung kinkan penanganan dilakukan secara terpusat dan terkoordinasi,” kata Kadinkes Kabupaten Cianjur Irvan Nur Fauzy, Kamis (23/4).
Tono menambahkan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Labkesda Kabupaten Cianjur dan Provinsi Jawa Barat untuk melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan serta muntahan pelajar.
“Tentu kita tidak bisa langsung menyimpulkan. Kita masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan apakah benar makanan MBG menjadi penyebabnya atau ada faktor lain,” tambahnya.
Perlengkapan Makan Ihwal perlengkapan makan, diketahui para pelajar MAN 1 Cianjur menggunakan tempat makan dari plastik, sementara pelajar SMP PGRI menggunakan bahan stainless steel.
Polisi masih menelusuri apakah bahan wadah makanan turut berkontribusi dalam kasus ini.
“Tempat makan yang digunakan juga diperiksa. Dinyatakan telah digunakan hingga lima kali sebelumnya dan dibersihkan meng gunakan sabun biasa. Namun, kita tetap menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan keamanan bahan tersebut,” jelasnya. (rbi/kim/ttg)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim