RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengundang warga yang terkena dampak penggusuran proyek Pemerintah Daerah Bekasi. Termasuk anak perempuan yang mengunggah video terkait kebijakan orang nomor satu di Jabar.
"Anak SMP yang bercerita itu anaknya siapa?" tanya Dedi.
Seorang anak perempuan melambaikan tangan di tengah warga Bekasi yang datang.
"Saya bukan anak SMP, saya sudah lulus Pak," ungkapnya
"Lulus dari mana?" tanya Dedi
"Dari SMA, saya mau lanjut kuliah," jawa remaja perempuan tersebut.
Dedi menuturkan, bagian menarik dari video unggahan yang diduga menyindir kebijakan Gubernur Jawa Barat.
"Ada yang menarik, bukan urusan mau digusurnya ya. Yang menarik adalah ini sekolah engga boleh ada perpisahan. Engga boleh ada Study Tour bagaimana?" tanyanya.
"Pertama gini Pak, sekolah tanpa wisuda kan. Lebih tepatnya perpisahan bang. Kalau bisa wisuda itu pengeluarannya lebih sedikit. Tetap ada wisuda," jawab remaja perempuan tersebut.
"Di negara mana yang TK ada wisuda, SMP ada wisuda, SMA ada wisuda di negara mana tuh? Hanya di Indonesia.
"Punya rumah engga yang wisuda Tk itu, engga punya, di bantaran sungai. SMP wisuda lagi, punya rumah engga. SMA wisuda lagi, punya rumah engga," ungkap Dedi.
Mantan Bupati Purwakarta itu menanyakan tujuan dari kebijakan yang dilakukan.
"Saya tanya, gubernur melakukan itu untuk siapa?" tanya Dedi
"Rakyat semua," jawab remaja perempuan tersebut.
"Orang tua," imbuh Dedi.
Remaja perempuan tersebut menilai semua siswa harus merasakan perpisahan.
"Lebih tepatnya bukan gitu Pak, biar adil, semua murid bisa merasakan perpisahan," tuturnya.
Dedi pun menanyakan pembayaran perpisahan.
"Ngerasain perpisahan, duit perpisahan dari siapa?" tanya Dedi.
"Dari orangtua," jawab remaja tersebut.
"Membebani engga? Terus, tanpa perpisahan emang sekolah jadi bubar? Tanpa perpisahan, emang kehilangan kenangan?" tanya Dedi.
Menurutnya, kenangan sekolah tercipta saat proses belajar bersama.
"Kenangan itu bukan pada saat perpisahan, kenangan indah itu saat proses belajar selama 3 tahun," sebut Dedi.
Namun, pernyatan Gubernur Jawa Barat dibantah oleh remaja perempuan yang viral tersebut.
"Engga juga sih Pak. Saya ngerasa udah lulus, kalau engga ada perpisahan, kita tuh engga bisa kumpul bareng atau ngerasain interaktif terakhir bersama teman-teman," jelasnya.
Dedi Mulyadi kembali menanyakan pembayaran.
"Bayar engga? yang bayar siapa?"
"Orang tua Pak," ungkapnya.
Dedi menjabarkan, hal-hal yang seharusnya dikritik.
"Saya kritik ya, harusnya speak up-nya begini. Kritik gubernur, karena orang tua dibebani untuk pembayaran sekolah, kritik gubernur karena banjir, ini saya senang," ujarnya.
Dedi berpendapat, remaja perempuan tersebut dirundung oleh warganet karena tidak tepat.
"Ini kritik gubernur karena perpisahan, akhirnya dibully. Dibully karena logikanya tidak tepat," pungkasnya.
Sebagai informasi, beredar viral video remaja perempuan diduga menyindir kebijakan Gubernur Jawa Barat.
Dalam video yang sama, remaja perempuan tersebut berpendapat soal penggusuran bangunan liar di bantaran sungai dan larangan wisuda.
Editor : Siti Dewi Yanti