RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memuji kehidupan masyarakat di sebuah kampung di Ciamis Jawa Barat yakni Dusun Susuru, Panawangan yang hidup berdampingan di tengah keberagaman, salah satunya kehadiran Sunda Wiwitan.
Kekaguman Dedi Mulyadi disampaikan saat dirinya bertemu dengan para siswa SMP Negeri 1 Panawangan, Kabupaten Ciamis yang sempat viral usai video mereka pulang sekolah jalan kaki beredar di jagat maya.
Gubernur Jawa Barat kemudian mengundang para pelajar serta guru dan pihak sekolah dan berbincang banyak hal selain soal imbauannya agar siswa jalan kaki.
Dalam pertemuan itu, diketahui bahwa para siswa SMPN 1 Panawangan terdiri dari berbagai agama yang mereka anut dan hidup berdampingan di Dusun Susuru yang dikenal sebagai kampung dengan toleransi tinggi.
Salah satu siswa yang bertemu Dedi Mulyadi diketahui sebagai penganut penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan bersama orang tuanya.
Dalam perbincangannya dengan sang kepala daerah, siswa tersebut mengaku keluarganya penganut Sunda Wiwitan di Dusun Susuru, Panawangan, Ciamis dan ia mendapat ajaran dari orang tuanya.
"Berarti ngajarin ngejaga alam, lingkungan?" tanya Dedi Mulyadi kepada siswa SMPN 1 Panawangan.
"Iya," jawab pelajar laki-laki tersebut kepada Gubernur Jabar.
Kehidupan masyarakat di Dusun Susuru, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis Jawa Barat yang berbaur dan saling menghormati di tengah perbedaan keyakinan membuat Dedi Mulyadi kagum.
"Hidup berdampingan kan? Gak Ada problem kan? Hebat, ini kalau ngomong toleransi ini di kampung di Panawangan ada Sunda Wiwitan," kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam video yang diunggahnya di YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Selain Sunda Wiwitan, di Dusun Susuru juga terdapat penganut agama lain seperti Kristen dan Islam yang mana masyarakatnya saling menghormati satu sama lain dan membuat Dedi Mulyadi berencana untuk mengunjunginya.
"Saya mau berkunjung ke sana, di Kampung Susuru ada masjid, gereja, ada Sunda Wiwitan. Keren, kata siapa Ciamis intoleran? Ciamis itu contoh toleransi yang nyata di Indonesia, Panawangan itu contoh bagi dunia," ungkap Dedi Mulyadi.
Sunda Wiwitan di Dusun Susuru Ciamis
Kisah kehidupan Sunda Wiwitan di Dusun Susuru menyedot perhatian terlebih setelah diunggah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dikutip dari berbagai sumber, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan atau agama lokal yang dianut oleh sebagian masyarakat Sunda dan memiliki akar budaya serta spiritualitas terhadap leluhur.
Dalam pelaksanaannya, Sunda Wiwitan menekankan hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa dan mencakup berbagai ritual, upacara, dan tradisi demi menjaga keseimbangan.
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Ciamis pernah menyampaikan terkait kerukunan umat beragama dan penghayat kepercayaan di Dusun Susuru Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Dikutip dari laman Kesbangpol Pemkab Ciamis, di dusun itu bahkan lokasi tempat beribadah seperti mesjid, gereja, dan penghayat kepercayaan berdekatan dalam sebuah komplek. Bahkan di komplek yang sama juga ada pondok pesantren, MTs dan SMK yang masih satu yayasan dengan pondok pesantren tersebut.
Tempat tinggal masyarakat berbaur dan tidak mengelompok berdasarkan agama bahkan tempat ibadah berdampingan contohnya, gereja yang berhadapan dengan tempat tinggal warga beragama Islam.
Kesbangpol Kabupaten Ciamis mengungkap dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat hidup rukun dan saling menghormati dan tetap melaksanakan aktivitas sosial ekonomi tanpa terganggu karena adanya perbedaan agama maupun kepercayaan.
Kerukunan di Dusun Susuru, Kecamatan Panawangan, Ciamis ditunjukan misalnya jika ada warga yang meninggal dunia, maka tidak membedakan agama termasuk dalam proses pemakaman semua warga saling membantu.
Editor : Eka Rahmawati