RADAR BOGOR - Seorang ibu mendatangi kediaman Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Kepala Sekolah dan perangkat pendidikan Kabupaten Purwakarta.
Ibu yang datang merupakan orang tua tunggal siswa yang terlibat perkelahian antar kelompok, yang menyebabkan salah satu anak harus dirawat di rumah sakit.
Saat berbicara dengan sang ibu, Dedi sempat menyinggung soal tuntutan yang mungkin dilayangkan keluarga korban.
"Sekarang kalau keluarga korban nuntut, misalnya Rp100 juta. Kita berdamai, karena masih anak di bawah umur," ucapnya.
Mendengar hal tersebut, ibu pelaku mengungkapkan, dirinya tidak memiliki uang.
"Kalau Rp100 juta mah saya engga punya, Pak. Terus terang aja. Uang Rp1 juta atau Rp100 ribu juga engga ada," sebutnya.
Dedi berujar terkait alasannya menangani permasalahan remaja.
"Ini yang saya maksud, kenapa saya sekarang agak ngotot urus penanganan anak-anak itu," ungkapnya.
Karena, Dedi melanjutkan, yang terlibat perkelahian antar kelompok dan kenakalan lainnya, kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu.
"Itu yang saya ngomong, agak keras itu. Orang keluarga mampu itu kalau dapat musibah seperti ini, udah miskin tambah miskin," terangnya.
Merespon pernyataan Dedi Mulyadi, ibu tersebut mengaku bingung.
"Bingung saya ngadepin ini. Mau minta tolong, minta tolong ke siapa. Punya keluarga, di Brebes semua," tambahnya.
Sang ibu sempat menceritakan Riwayat Pendidikan sang anak yang menjalani Pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
"Nu bangor budak ibu, nu tanggung jawab gubernur," ujarnya sambil tersenyum.
"Jadi nyusahin ke bapa," balas ibu pelaku.
Dedi sempat menanyakan kondisi keuangan keluarga pelaku.
"Saya engga punya utang, sekarang nyari, besok udah dipakai," jawab ibu pelaku.
Ibu pelaku menceritakan, untuk bisa mendatangi rumah Gubernur Jawa Barat, ia harus meminjam uang.
"Sekarang aja ke sini bawa uang Rp50 ribu. Itu geh dapet pinjem dari emak. Udah berapa hari saya engga nyetrika, engga ada yang nyuruh tetanga," ceritanya.
Editor : Siti Dewi Yanti