RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi disebut Lain Bapa Aing Tapi Bapa Tiri lantaran persoalan jarak rusak di Cirebon sempat menyedot perhatian. Dedi Mulyadi menanggapi kritik yang dilontarkan kepadanya sebagai pemimpin di Provinsi Jawa Barat (Jabar), salah satunya soal kondisi jalan di Cirebon Timur.
"Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi lain bapa aing tapi bapa tiri Jalan Cirebon Timur rusak parah pak," demikian spanduk yang tertulis dan beredar di media sosial.
Dedi Mulyadi menyampaikan selama ini dirinya menerima kritik dari siapa pun terkait kinerja dalam memimpin Provinsi Jawa Barat tetapi ia berharap kritik itu disampaikan secara objektif.
Meski baru hampir 3 bulan menjabat sebagai gubernur Jabar, Dedi selalu berupaya memberikan yang terbaik kepada masyarakat di Tatar Pasundan bahkan ia lebih banyak memilih terjun ke lokasi dan memecahkan masalah yang dihadapi warga.
"Kalau mau ngomong silakan ngomong sepuas hati Anda kenapa? Itu perlu pemerintah perlu output, perlu otokritik, saya selama ini dikritik tidak pernah habis," ujar Dedi Mulyadi saat menyampaikan pidato di Bale Jaya Dewata Cirebon dilansir dari YouTube Lembur Pakuan Channel.
Menurut Dedi Mulyadi yang paling menarik adalah di Cirebon yang mengkritiknya gara-gara jalan rusak dan tak kunjung diperbaiki.
"Dan yang paling menarik adalah di Cirebon ada orang yang marah sama saya jalan di Cirebon goreng (jelek) gubernurna lain bapa aing tapi bapa tere (gubernurnya bukan bapak saya tapi bapak tiri) saya katakan baru jadi gubernur dua bulan," ungkap Gubernur Jawa Barat.
Mendapat informasi soal jalan rusak di Cirebon, pemerintah segera mengecek dan diketahui jalan tersebut merupakan jalan kabupaten.
"Jalannya jalan kabupaten kunaon jalan kabupaten ngambek ka aing ari sia kunaon teu ngambek ka bupatina kan menjadi aneh kenapa? (Jalannya jalan kabupaten kenapa jalan kabupaten marahnya sama saya, kamu kenapa gak marah sama bupatinya ini kan menjadi aneh)," kata Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat mempersilakan siapa saja menyampaikan kritik asalkan logis atau masuk akal misalnya jika gubernurnya selalu jalan-jalan ke luar negeri, lebih banyak menghabiskan kegiatan di luar, tidak mengurusi rakyatnya, tidak mengurusi sungai kotor hingga tidak mengatasi persoalan kenakalan remaja.
"Kritik pada saya gubernur ewueuh gawe, duitna dihambur-hamburkan anggarannya habis untuk bajunya sendiri perjalanan dinasnya sendiri nginap dari hotel ke hotel kritik saya, bukan dibalik (kritik saya kalau gubernurnya tidak bekerja, uangnya dihambur-hamburkan, anggarannya habis untuk bajunya sendiri, perjalanan dinasnya sendiri, menginap dari hotel ke hotel, silakan kritik saya)," ucap Gubernur Jabar.
Ia pun memiliki sikap tegas pada siapa pun yang memberi kritik tetapi tidak objektif dan dirinya telah bekerja untuk masyarakat di Jawa Barat.
"Ketika gubernurya jalan-jalan ke luar negeri, duitnya dihabisi terus teu pernah dikritik, aing nu digawe dikritik, kenapa saya keras menghadapi karena tidak objektif (ketika gubernurnya jalan-jalan ke luar negeri, uangnya dihabiskan terus tidak pernah dikritik, saya yang bekerja dikritik, kenapa saya keras menghadapi ini karena tidak objektif)," ungkap Dedi Mulyadi lagi.
Terlebih selama ini kata Dedi Mulyadi ia sudah berupaya menurunkan anggaran dan melakukan penghematan anggaran hingga tak jarang harus merogoh kocek sendiri meski mengangkut tugasnya sebagai gubernur Jawa Barat.
Hal itu dilakukan Dedi karena ingin berbuat yang terbaik pada rakyat Jawa Barat bukan sekadar politik, tetapi menjadi cita-citanya sejak dulu. Dedi Mulyadi juga ingin menyaksikan rakyat Jawa Barat berjaya di negerinya sendiri.
Editor : Eka Rahmawati