RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mempertemukan kembali eks pekerja OCI dengan Taman Safari di rumah dinasnya di Bandung.
Sebelum pertemuan, sejumlah mantan pekerja OCI dating satu persatu.
"Saya menghargai Pak KDM secara kemanusiaan, tapi maaf untuk acara kekeluargaan, kita engga ada hubungan keluarga di sini," tuturnya.
Tidak hanya itu, terlihat salah satu mantan pekerja OCI menangis tersedu dan harus ditenangkan oleh pihak Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat.
"Saya engga mau, trauma saya gimana? Sampai sekarang saya engga punya identitas diri, siapa saya. Saya engga mau dibodohin seperti ini," bebernya.
Satu persatu, mantan karyawan OCI mau duduk satu meja dengan manajemen Taman Safari dan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Saat Dedi datang, kondisi mulai kondusif dan sudah mulai duduk di tempat masing-masing.
"Kemaren ketemu saya kemarin, temen-temennya ada berapa sekarang?" tanyanya.
"Yang datang sebelas," ucap salah satu mantan pekerja.
Dedi mengungkapkan, dirinya memenuhi janji di pertemuan pertama.
"Tali kasih dari saya. Berarti saya beri yang 12 orang dulu. Kita tidak boleh memberi sesuatu yang orang lain tidak membutuhkan.
"Ibu masih marah engga?" tanya Dedi
"Kalau ke bapak, ya saya engga marah," tutur salah satu mantan karyawan OCI.
Dedi menanyakan sosok yang membuat mantan pekerja itu marah.
"Oh engga marah, marahnya ke siapa?" tanyanya
"Sama Pak Jansen dan Pak Frans," jawab salah satu mantan karyawan OCI.
Dedi menjelaskan, pertemuan hari ini bukan pertemuan peradilan.
"Pertemuan hari ini juga bukan pertemuan musyawarah," ungkapnya.
Pertemuan hari ini, Dedi memaparkan adalah pertemuan kekeluargaan.
"Gini, kalua ceritanya sederhana saja. Saya hari ini banyak memberikan kompensasi dalam bentuk uang, personality saya maupun pemerintah pada berbagai hal yang terjadinya di masa lalu.
"Kalau ego-egoan, saya ngapain saya ngurusin begitu, cape-cape," tambahnya.
Namun, Dedi mengatakan, tidak bisa melakukan hal tersebut.
"Tapi kan kita tidak bisa, tidak ada saya hari ini tanpa hari kemarin," lanjutnya.
Kepada pihak Taman Safari, Dedi memaparkan, pertemuan ini terkait dengan citra taman safari yang kerap dikunjungi anak-anak.
"Taman safari hari ini tidak berdiri sendiri, dia terkait dengan aspek lingkungan, terkait juga dengan kawasan perkebunan," bebernya.
Dedi mengutarakan keinginannya untuk menyudahi permasalahan ini tanpa gaduh.
"Yang secara terus-menerus pada akhirnya merusak brand Taman Safari," ujarnya.
Pihak manajemen Taman Safari yang diwakili oleh Direktur Aswin Sumampau membacakan pernyataan kelluarga besar terkait masalah ini.
"Kita berniat menyelesaikan urusan ini, bukan dengan hukum, kekuasaan, maupun uang.
"Tapi kita menyelesaikannya dengan hati dan kemanusiaan sebagai suatu keluarga besar.
"Oleh karena itu, kita minta menyudahi masalah ini guna menghindari kerugian yang lebih besar bagi semua pihak.
Dan terima kasih tak terhingga kepada bapak gubernur yang telah menginisiasi dan membantu menyelesaikan masalah ini dengan cara baik dan bijak seperti layaknya orang tua," tutupnya.
Editor : Siti Dewi Yanti