RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali mencuri perhatian publik lewat gagasan pendidikan berbasis disiplin bagi remaja yang bermasalah.
Dalam kunjungannya ke Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia, ia memaparkan langsung program ini kepada Menteri HAM Natalius Pigai dan mendapat dukungan untuk melanjutkan langkah inovatif tersebut.
Program ini dilatarbelakangi meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap kenakalan remaja yang marak terjadi, mulai dari tawuran, penyalahgunaan narkoba, hingga aksi kekerasan yang melibatkan anak-anak usia sekolah.
Dedi Mulyadi menilai bahwa pendekatan pendidikan konvensional tak lagi cukup untuk menjawab krisis karakter dan moral di kalangan generasi muda.
Sebagai solusi, ia mengusulkan pendidikan berbasis kedisiplinan di lingkungan yang terstruktur, seperti barak militer.
Namun, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pendekatan ini bukan bentuk militerisasi anak-anak.
Program ini justru mengusung sistem pembinaan dengan rutinitas yang membentuk tanggung jawab, disiplin waktu, dan kebiasaan hidup sehat.
Dalam program ini, anak-anak mengikuti kegiatan yang teratur sejak pagi hingga malam.
Mereka diajak bangun pagi, melaksanakan ibadah, berolahraga, belajar seperti di sekolah biasa, dan menjalani malam dengan aktivitas positif serta pembatasan penggunaan gawai.
Para guru tetap dilibatkan dalam proses belajar mengajar dan diberikan insentif tambahan.
Pendekatan ini juga mencakup penguatan nilai-nilai keagamaan, pembelajaran karakter, serta pengawasan ketat terhadap lingkungan pergaulan anak-anak.
Tujuannya bukan hanya untuk memisahkan mereka dari pengaruh negatif, tetapi untuk menginternalisasi kebiasaan positif yang kelak bisa menjadi bekal kehidupan.
Menteri HAM menyambut baik pendekatan ini selama tidak mengandung unsur kekerasan.
Dukungan dari pemerintah pusat membuka peluang agar program serupa diterapkan di wilayah lain di Indonesia, menjadikan Jawa Barat sebagai percontohan nasional.
Dengan arah pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, upaya seperti ini dinilai relevan dan mendesak.
Gagasan Dedi Mulyadi tidak hanya menawarkan solusi atas krisis sosial, tetapi juga menjadi refleksi atas pentingnya inovasi kebijakan di sektor pendidikan yang lebih menekankan pada pembentukan karakter, bukan sekadar pencapaian akademik.***
Editor : Eli Kustiyawati