Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Pria Ngamuk di RSUD Karawang Ceritakan Kronologi Anaknya Meninggal di Hari Pertama Lahir

Siti Dewi Yanti • Kamis, 15 Mei 2025 | 06:09 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu dengan pria yang ngamuk di RSUD Karawang
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu dengan pria yang ngamuk di RSUD Karawang

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengundang pria ngamuk di depan RSUD Karawang ke Lembur Pakuan.

Pria yang diketahui bernama Edwin Septian, menceritakan kronologi anak pertamanya meninggal di hari pertama lahir ke dunia.

Edwin menuturkan, istrinya melahirkan di RSUD Karawang kepada Gubernur Jawa Barat.

"Jadi melahirkannya di situ? di Rumah Sakit Umum Daerah Karawang. Sebelum itu, dokter pendampingnya siapa? Artinya waktu hamil, suka periksa di mana?" tanya Dedi Mulyadi.

"Awalnya di Dewi Sri. Pertama ke Rumah Sakit Dewi Sri, pake biaya, mahal. Akhirnya diperiksa di puskesmas," ujar Edwin.

Dedi Mulyadi sempat menanyakan ketersediaan alat pemeriksaan untuk melihat janin, yang sudah tersedia di puskesmas tempat istri Edwin lakukan pemeriksaan.

Ia juga menanyakan usia kandungan istri Edwin saat melahirkan anak pertama mereka.

"8 bulan pak. Jadi ketahuannya tuh di RSUD juga, ada ari-ari yang nutupin jalan lahir. Jadi emang pendarahan, bakal pasti lebih condong pendarahan, sehingga ditindak," ucap Edwin.

"Ditindak itu artinya, pendarahan sudah di rumah?" tanya Dedi Mulyadi.

Edwin menjelaskan, pendarahan pertama terjadi di rumah dan langsung dibawa ke RSUD.

"Di RSUD sekitar jam 1 malam ditindak. Kata dokter yang jaga bilang, ini kalau pendarahan lagi harus di terminasi," lanjutnya.

"Harus dilahirkan, kemudian dibawa ke ruang kelahiran?" tanya Dedi Mulyadi.

"Belum Pak. Jadi masuk ruang rawat inap dulu, jam 5 subuh, baru ada pemeriksaan lagi dari

dokter jaga juga. Kondisi itu juga pendarahan lagi, terus dia konsul sama penanggung jawabnya, spesialisnya," beber Edwin.

Edwin menceritakan, setelah menunggu, tidak ada kabar.

"Pukul 9 diperiksa lagi, normal semua," kata Edwin.
"yang meriksa siapa?" tanya Dedi Mulyadi

"Dokter jaga juga," ucap Edwin.
"Belum spesialis kandungan?" tanya Dedi Mulyadi.

"Belum tahu Pak," jawab Edwin
"Yang meriksa itu dokter umum berarti, bukan spesialis kandungan?" tanya Dedi Mulyadi.
"Bukan," sebut Edwun.

Edwin menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menyebutkan bayi harus segera dilahirkan.

"Sudah tiga dokter, dari mulai dokter yang malam, pagi-pagi, sama dokter yang jam 9. Semuanya merekomendasikan harus segera dilahirkan," tutur Dedi Mulyadi

Edwin menuturkan, jam 11 siang, sang istri mengalami pendarahan dan air ketuban sudah keluar, namun belum dimasukan ke ruang operasi.

"Kata dokternya suruh laporan kalau terjadi pendarahan lagi, akhirnya datang ke bidan," tambahnya.

Edwin sempat menjabarkan, ia langsung menemui bidan untuk memberi tahu pendarahan yang dialami istrinya.

"Sabar atuh Pak, kan mau dioperasi," cerita Edwin meniru bidan yang menangani sang istri.

"Jadwal operasinya sudah ditentukan?" tanya Dedi Mulyadi
"Belum," jawab Edwin.

"Jam 11 keluar air ketuban dan pendarahan lagi, apa yang dilakukan rumah sakit?" tanya Dedi Mulyadi.

"Dari situ, ada satu lagi dokter yang datang, disuruh puasa. Disuruh puasa, udah engga ada pemeriksaan lagi. Puasa sampai jam 5.30, mau masuk operasi," kata Edwin.

Edwin memaparkan, sang istri tidak dibius total dan mendapat informasi anaknya lahir dengan berat 1.600 gram dan langsung dibawa ke ruangan bayi.

Saat dipanggil ke ruangan bayi, Edwin melihat kondisi anak sudah menggunakan alat.

"Pak. ini anak kritis, beratnya 1.200," ucap Edwin meniru perkataan staf rumah sakit.

"Kritis disebabkan karena anaknya kecil, bobotnya 1.200. Kata dokter, bobot 1.200 ideal engga?" tanya Dedi Mulyadi

"Engga Pak," ujar Edwin.

Saat Dedi menanyakan tindakan yang dilakukan kepada bayi, Edwin menjabarkan, anaknya dipasang alat bantu namun tidak dimasukan ke ruang ICU bayi.

"Di ruang bayi biasa, bersatu dengan bayi-bayi normal. Terus?" tanya Dedi Mulyadi.

Edwin mengatakan, dirinya sudah mengadzankan sang anak, kemudian diminta keluar ruangan karena petugas rumah sakit akan melakukan tindakan.

"Edwin engga tahu tindakan apa, disuruh tanda tangan, udah keluar. Terus, sekitar jam 10.55, dipanggil lagi, bahwa anak meninggal dunia," lanjutnya.

Sebagai informasi, video pria marah-marah di depan RSUD Karawang viral di media sosial.

Hal ini menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, sehingga mengundang pria tersebut ke kediamannya.

Editor : Siti Dewi Yanti
#dedi mulyadi #gubernur jawa barat #Rsud karawang #pria ngamuk