Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Bertemu Lagi setelah Puluhan Tahun, Penjual Nasi Peluk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sambil Menangis

Ahmad Susandi • Sabtu, 17 Mei 2025 | 07:51 WIB
Momen haru penjual nasi peluk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang dulu langganannya saat sekolah
Momen haru penjual nasi peluk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang dulu langganannya saat sekolah

RADAR BOGOR – Suasana haru menyelimuti sebuah momen tak terduga saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tengah menuju sebuah SMA di wilayah Purwakarta.

Di perjalanan, Dedi Mulyadi berhenti karena melihat sosok ibu-ibu penjual nasi yang tampak akrab di matanya.

Ternyata, perempuan itu adalah penjual nasi langganannya semasa Dedi Mulyadi sekolah dahulu.

Tanpa menunggu lama, sang ibu langsung menghampiri dan memeluk Dedi Mulyadi sambil menangis haru.

Dengan suara bergetar, ia berkata, “Hoyong dipangku.” Sebuah ungkapan dalam bahasa Sunda yang menyiratkan kerinduan sekaligus kebanggaan bisa kembali bertemu dengan seseorang yang dulu hanya dikenal sebagai siswa biasa, kini menjadi orang nomor satu di Jawa Barat.

Dedi Mulyadi pun menyapa hangat dan bertanya, “Ayeuna dagangana loba deui?” menanyakan kabar usaha jualan nasi sang ibu.

Dengan senyum tulus dan mata berkaca-kaca, ibu tersebut menjawab, “Sukses, Bapak. Alhamdulillah.”

Sebagai bentuk kepedulian dan rasa hormat terhadap perjuangan sang ibu, Dedi Mulyadi memberikan sejumlah uang sebagai tambahan modal berjualan.

Ia pun berpesan, “Ngke bagikeun tah ka barudak sangu na, nya. Kuring ek acara heula, nya,” mengisyaratkan bahwa rezeki yang ia berikan hendaknya juga dibagi untuk anak-anak yang membutuhkan.

Sang ibu hanya bisa membalas dengan kalimat sederhana penuh makna, “Nuhun, Bapak.”

Momen penuh emosi itu terekam dalam video yang diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, dan mendapat respons hangat dari netizen.

Banyak yang merasa tersentuh melihat kedekatan emosional antara pemimpin dan rakyat kecil, yang tumbuh dari masa lalu dan tak pernah putus oleh waktu.

Kisah ini bukan hanya potret nostalgia, tapi juga cermin dari kepemimpinan yang berpihak pada kemanusiaan, di mana seorang gubernur tak melupakan siapa pun yang pernah menjadi bagian dari perjalanannya, sekecil apa pun peran mereka.

Dalam kesederhanaan pertemuan di tepi jalan, terukir sebuah kisah tentang ingatan, penghargaan, dan kasih yang tak lekang oleh waktu.

Di tengah kesibukannya sebagai pemimpin, Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa kebaikan masa lalu pantas dihargai hari ini dengan pelukan hangat, ucapan terima kasih, dan sejumput rezeki yang dibagikan kembali.***

Editor : Eli Kustiyawati
#dedi mulyadi #gubernur jawa barat #penjual nasi