Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gubernur Jawa Barat Sebut Dulu Terninabobokan Imperialisme Kolonialisme, Dedi Mulyadi: Hanya Menjadi Kuli dengan Gaji yang Terbatas

Lucky Lukman Nul Hakim • Selasa, 20 Mei 2025 | 12:49 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat menjelaskan perjuangan rakyat Indonesia.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat menjelaskan perjuangan rakyat Indonesia.

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengungkapkan, bangsa Indonesia dulu pernah mengalami keterpurukan.

"Hari ini, kita bersama-sama memeringati upacara kebangkitan nasional saat masyarakat Indonesia, masyarakat Nusantara disadarkan dari ketertutupan telinganya, dari ketertutupan matanya, dari ketertutupan hatinya, dari kebutaan matanya, dari ketulian telinganya, dari kebisuan lidahnya dan dari ketutupan hatinya," jelas Dedi Mulyadi saat upacara peringatan hari Kebangkitan Nasional tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2025, Selasa (20/5/2025).

"Di mana saat itu kita masuk pada sebuah fase, kita terninabobokan oleh imperialisme, kolonialisme yang menghamparkan lapangan pekerjaan, yang menghamparkan perkebunan, yang menghamparkan areal persawahan, yang menghamparkan areal-areal irigasi, yang menghamparkan areal bendungan," tutur Dedi Mulyadi.

"Tetapi, mereka mengisi gedung sate ini. Mereka mengisi gedung-gedung indah dan mewah di seluruh Nusantara," sambung Dedi Mulyadi.

Tetapi, kata Dedi Mulyadi, gedung-gedung itu hanya memiliki hak mereka untuk melakukan pengelolaan keuangan, untuk melakukan pengelolaan kekuasaan.

"Di mana seluruh hasil kekayaannya dinikmati oleh mereka dan dikirimkan ke negerinya," kata Dedi Mulyadi.

Menurut Dedi Mulyadi, rakyat Indonesia hanya menjadi kuli dengan gaji yang terbatas.

"Beberapa orang Indonesia yang tunduk menjadi kaki tangannya, menikmati sebagian kekuasaannya bahkan menikmati uang-uang yang seharusnya dibayarkan kepada para pekerja Indonesia yang lapar, yang hitam kelam terbakar, yang disebutnya sebagai rodi," papar Dedi Mulyadi.

"Mereka mengambil hak-hak mereka dan dinikmati oleh mereka yang hari itu berkongsi dengan kolonialisme," kata Dedi Mulyadi.

"Maka kesadaran itu tumbuh. Lahirlah gerakan Budi Utomo, lahirlah gerakan Sumpah Pemuda," ungkap Dedi Mulyadi.

"Seluruh gerakan itu dimulai dengan sebuah kesadaran dan hilangnya rasa takut pada dirinya bahwa kita adalah pemilik hak dari negeri ini," pungkas Dedi Mulyadi.

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#dedi mulyadi #bogor #kolonialisme #gubernur jawa barat