RADAR BOGOR - Sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kini menjadi sorotan berbagai pihak, terlebih kebijakannya yang menuai pro kontra.
Pengamat politik Indonesia yang juga Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI), Jeirry Sumampow mengungkapkan, Dedi Mulyadi adalah figur yang menarik.
"Menariknya Dedi Mulyadi bukan baru sekarang. Dia sudah sejak waktu di Purwakarta kan sebetulnya," ungkap Jeirry Sumampow saat podcast Vinus Forum.
Selain itu, ada pula momentum Dedi Mulyadi ikut mengungkap kasus Vina Cirebon.
"Dedi Mulyadi intensif itu. Cuma mungkin selama ini, memang dia tenggelam karena selama 10 tahun terakhir kita punya orang seperti Jokowi yang sebetulnya mendominasi media sosial berkaitan dengan katakanlah pemimpin-pemimpin yang muncul dari bawah gitu ya, dari mulai dari kota lalu disukai publik kemudian jadi presiden," papar Jeirry Sumampow.
Menurut Jeirry, kalau baru sekarang Dedi Mulyadi viral karena ada momentumnya.
Pertama, kata Jeirry, Dedi Mulyadi jadi gubernur, lalu yang paling penting sebetulnya publik Indonesia ini mulai kehilangan figur yang diidolakan.
Sebab, sambung Jeirry, era Jokowi sudah berakhir dan endingnya kurang bagus.
"Karena apa? banyak sekali mulai dari tiga periode lah, perpanjangan jabatan dan lain-lain ya," kata Jeirry.
Lebih lanjut Jeirry mengatakan, sebetulnya dulu juga ada orang seperti Ganjar Pranowo yang sangat populer tapi setelah pencalonan presiden kemudian hilang.
Jeirry menambahkan, ada pula Anies Baswedan.
"Menurut saya, sekarang viralnya orang seperti Dedi Mulyadi itu karena memang momentumnya kita ini kehilangan tokoh di tengah gonjang-ganjing politik sekarang ini yang bisa jadi model gitu," tutur Jeirry.
Nah, Jeirry menilai, saat ini ada dua orang yang fenomenal yakni Dedi Mulyadi dan satu orang yakni kepala daerah dari Maluku Utara dengan gaya yang sedikit berbeda yakni laki-laki dan perempuan.
"Tapi kan sekarang sedang viral tuh, apa aja yang mereka lakukan itu viral. Nah, kalau kalau kita bandingkan dua karakter ini Dedi Mulyadi ini kan memang disengaja gitu," tegas Jeirry.
"Jadi semua yang dia (Dedi Mulyadi) lakukan itu buat di media sosial lalu kemudian diviralkan. Kebetulan, dia punya media sosial dengan pengikut yang sangat banyak," sambung Jeirry.
Jeirry menambahkan, kepala daerah di Maluku Utara lebih alami, natural tidak ada polesan.
"Mungkin memang figurnya juga perempuan dan agak enaklah kalau disorot media kan gitu ya, dibanding mungkin dengan orang seperti Kang Dedi Mulyadi," jelas Jeirry.
Ia menegaskan, fenomena Dedi Mulyadi mengisi kekosongan figur yang sekarang itu hampir tidak ada.
"Jadi kalau kita ingat dulu waktu zaman Jokowi kan begitu juga sebetulnya," ucap Jeirry.
"Begitu juga di masa SBY, SBY yang pertama itu orang mengidolakan SBY makanya kemudian dipilih kan. Tapi setelah SBY di bagian akhir di periode kedua, kita enggak punya figur muncul orang seperti Jokowi di Solo dulu," jelas Jeirry.
"Nah, menurut saya Dedi Mulyadi sekarang mengisi ruang itu. Jadi publik kita itu ingin ada semacam role model untuk pemerintahan," tutur Jeirry.
"Kebetulan setelah yang tadi hilang ya sekarang muncul seorang Dedi Muladi gitu," sambungnya.
Jeirry menambahkan, momentum munculnya Dedi Mulyadi dari situasi politik yang sedang tidak baik-baik saja, terlalu banyak masalah.
"Dia (Dedi Mulyadi) jadi role model dari keinginan publik atas seorang figur yang kira-kira bisa memberi semacam pencerahanlah di tengah kegelapan yang sekarang menghantui loh," tandas Jeirry. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim