RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi baru-baru ini memaparkan pentingnya dalam diri setiap manusia di Nusantara punya jiwa pemimpin berkarakter.
Dedi Mulyadi menyampaikan keprihatinan terkait kondisi akut bangsa hari ini di hadapan siswa SMA Taruna Nusantara Kampus Ciamis, yang mana banyak manusia yang terbentuk dalam lingkungan ketidakpedulian.
Gubernur Jawa Barat berpesan pada siswa yang hadir agar memahami betul pentingnya berjiwa pemimpin mengakar pada budaya.
“Bangsa hari ini sampai pada tingkat akut. Akutnya apa, manusia terbentuk dalam sebuah lingkungan yang dimana dalam lingkungannya diajarkan ketidakpedulian,” ungkapnya dilansir dari YouTube Lembur Pakuan Channel.
Carut marut kondisi saat ini mengarah pada ketidakpedulian, kata Dedi sebagai dampak dari akar budaya yang tidak mencerminkan karakter sesungguhnya.
“Itu tidak terlepas dari akar kebudayaan kita. Masyarakat kita ini dalam perspektif sejarah itu dibangun dalam akar kebudayaan dan akar kebudayaan lahir dari sebuah tradisi. Dalam sebuah tradisi dia punya pemimpin. Namanya pemimpin tradisi, pemimpin kultural, pemimpin budaya,” tuturnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan tentang pemimpin di kalangan Sunda dengan berbagai karakter unggul yang dimiliki.
“Kita jelasin Sunda dulu, karena Jawa Barat itu akar kebudayaannya Sunda. Pemimpin budaya di kalangan Sunda itu disebutnya puud, ada yang disebut juga olot atau siapapun dan olot itu orang yang terbentuk karakter dirinya menjadi pemimpin yang lahir dalam lingkungan masyarakat,” jelasnya.
Karakter unggul sering disebut legok tapa genteng, yang mana sebagai pemimpin bisa meninggalkan jejak kaki sepanjang peradaban.
“Pemimpin dalam kebudayaan itu punya karakter. Karakternya apa legok tapa genteng. Apa itu legok tapa pijakan kakinya selalu meninggalkan jejak,” paparnya.
“Maka jejaknya itu dalam sejarah bisa dilihat di batu tulis. Bahwa seorang pemimpin itu mampu meninggalkan jejak kakinya di sepanjang peradaban itu ada. Maka jejak itulah yang disebut pemimpin berkarakter,” imbuhnya.
Menurut pendapatnya, pemimpin berkarakter itu punya perspektif dalam tiga arsitektur kebudayaan politik Sunda.
“Pemimpin berkarakter meletakkan jejak kakinya dalam sebuah watak peradaban hidupnya itu memiliki perspektif dalam arsitektur kebudayaan politik Sunda. Apa itu?,” ujarnya.
“Pertama pemimpin itu harus burat batu, yang kedua gurunya harus gurat cai, yang ketiga keluarganya harus urat tani. Dari ketiga ini melahirkan Trias Politika yang disebut Tri Tangtu Di Buana yaitu Rama, Resi, Prabu,” sambungnya.
Baca Juga: Gubernur Jawa Barat Kunjungan ke SMA Taruna Nusantara, Dedi Mulyadi: Disiplin Itu Kunci, Bukan Beban
Selanjutnya Dedi Mulyadi menjelaskan masing-masing maksud Rama, Resi, Prabu dengan pemahaman mudah.
“Rama adalah keluarga yang civil society, keluarga yang harmonis. Kemudian resi adalah guru yang arif, yang gurat cai, gurat air. Prabu adalah pemimpin yang kuat guratnya. Gurat batu, apa itu adalah pemimpin yang memiliki pendirian kukuh,” pungkasnya.***