RADAR BOGOR - Baru menjabat sekitar tiga bulan sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi membuat berbagai gebrakan hingga menyedot perhatian. Dedi juga kerap tampil sebagai pemimpin dengan gaya bicaranya yang khas.
Dedi Mulyadi mengungkapkan alasan dirinya kerap berbicara keras hingga meninggi. Pada momen pidato di hadapan ratusan siswa yang baru selesai menjalani pendidikan di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Dedi menjelaskan bahwa dirinya hidup di tengah kerumunan warga.
"Kenapa Kang Dedi ngomongnya suka keras, kenapa ngomongnya suka meninggi, karena saya hidup di bawah terik matahari, saya hidup di tengah-tengah kerumunan warga, saya hidup dalam setiap hari yang datang ke rumah saya," ujar Dedi dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Warga yang datang ke rumahnya menurut Gubernur Jawa Barat adalah mereka yang terlibat berbagai persoalan dalam hidupnya seperti terlibat pinjaman daring, pinjaman bank emok, tak memiliki uang untuk membayar kontrakan, warga sakit dan berbagai persoalan lainnya.
"Saya hidup di tengah kerumunan ribuan orang bahkan puluhan ribu orang, kalau saya tidak bisa ngomong meninggi saya tidak akan bisa mengendalikan puluhan ribu orang," ungkapnya.
Seandainya kata Dedi, sebagai gubernur ia hanya duduk di kantornya di Gedung Sate Bandung dan hanya menerima atau bertemu para Dirut, CEO, maupun artis mungkin gaya bicaranya tidak seperti itu.
"Tangan saya harus main, mata saya harus main, telinga saya harus main, saya harus mengendalikan seluruh situasi ini dalam setiap waktu," sambungnya.
Dedi Mulyadi kemudian mengucapkan terima kasih kepada jajarannya para pegawai di lingkungan Provinsi Jawa Barat karena menyesuaikan dengan gaya kerjanya yang kerap terjun ke lokasi dan bertemu langsung warga.
"Saya berucap terima kasih atas penyesuaian seluruh pegawai pemda Provinsi, Pak Sekda, Plt Kadisdik, Pak Asisten 1, Kepala Kesbangpol, protokol semuanya kenapa? Hidupnya berubah asalnya bekerja dulu di Pemprov hari ini berganti mengabdi untuk kepentingan rakyat Jawa Barat, karena mengabdi gak ada lagi gubernur, gak ada lagi sekda bagaimana situasi," kata Dedi.
Editor : Eka Rahmawati