RADAR BOGOR - Muncul kekhawatiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi jika banyak jalan yang diperbaiki jadi mulus.
Dedi Mulyadi mengungkapkan, pembangunan di Jawa Barat akan berhasil apabila ada kesadaran dari rakyatnya.
"Kuring ningali jalan titadi ditingalikeun (saya melihat jalan dari tadi). Ceuk aing teh. Aing ngabangun jalan pidorakaeun teu (kata saya, saya membangun jalan akan jadi dosa tidak)?," ungkap Dedi Mulyadi saat berkunjung ke Majalengka.
"Kunaon (kenapa) Kang Dedi? pidorakaeun jalan ka lembur garinjul (jadi dosa jalan ke kampung tidak mulus)," ungkap Dedi Mulyadi.
"Keur jalan garinjul, jelema ka sawah. Keur jalan garinjul, jelema ka kebon. Keur jalan garinjul, barudak leumpang," tutur Dedi Mulyadi kepada warga.
"Keur jalan garinjul, barudak mawa arit. Keur jalan garinjul, barudak manggul jukut. Keur jalan garinjul barudak ngajingjing belut," papar Dedi Mulyadi.
"Keur jalan garinjul, budak magrib ngampih ka imah. Keur jalan garinjul budak jeung kolot ngariung di tengah imah silih eledan, silih papagahan, silih talingakeun," jelas Dedi Mulyadi.
Namun saat jalan mulus, kata Dedi Mulyadi, harga lahan mahal, pabrik dibangun, toko dibangun, lahan dijual, dipakai beli motor, dipakai beli mobil, hilang harta benda jadi motor dan mobil.
"Eta jalan alus beak unggal poe pakai motor tarik pisan, pakai mobil tarik pisan tikusruk kawalungan paeh jeung nu boga motor-motorna cilaka," ungkap Dedi Mulyadi.
"Teu keur jalan alus euweuh geng motor ka lembur, eta ti barang aya jalan alus eta barudak marawa celurit ka lembur parasea," tegas Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi, membangun fisik harus diawali dengan kesadaran dari masyarakatnya.
Dedi Mulyadi menegaskan, jika jalan bagus seharusnya masyarakat jadi lebih rajin ke sawah.
Lebih lanjut Dedi Mulyadi mengatakan, gunakan motornya untuk membawa rumput, kayu bakar sehingga produktivitas meningkat dan ekonomi naik.
Selain itu, kata Dedi Mulyadi, anak harus rajin sakolah.
Apalagi, sambung Dedi Mulyadi, sekolah sudah digratiskan sehingga uang jajan bisa ditabung dan nagara maju.
Namun, Dedi Mulyadi mengaku prihatin, sebab kondisinya terbalik yakni sekolah sudah digratiskan pemerintah dengan berbagai subsidi tapi anak setiap hari jajannya Rp50 ribu Rp30 ribu, Rp20 ribu.
Akibatnya, tutur Dedi Mulyadi, ibu dan bapaknya menjadi pusing kewalahan untuk menyekolahkan anak habis sawah tujuh kotak.
Yang lebih parah, ujar Dedi Mulyadi, anaknya tidak lulus sekolah karena digerebek Hansip sebab pacarnya sudah hamil dua bulan.
Tidak hanya itu, Dedi Mulyadi juga menegaskan negara sudah memberikan makan gratis dan iuran sekolah dibebaskan hingga gurunya digaji dan sertifikasi.
Tapi, sambung Dedi Mulyadi, itu tidak akan ada artinya sebab biaya orang tua harus tetap keluar untuk bayar outing kelas, studi banding, piknik, studi tour.
"Gagayaan siga nu heueuh, kolotna rengkung tepi ka hideung budakna siga anak jelema beungar padahal kolot ripuh unggal poe diudag-udag bank emok, diudag-udag bank keliling," kata Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi, membuat aspal dan bangunan mudah tapi mengubah sikap mental manusia yang harus diperbaiki.
Dedi Mulyadi mengajak warga Sunda untuk maju dalam menggapai cita-cita.
Lebih lanjut Dedi Mulyadi mengatakan, mulai saat ini anak muda tidak gengsi dan pemalu.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menambahkan, apa yang diberi orang tua makan jangan membicarakan gizi.
"Aing ge ngadahar gegesek jadi gubernur sia teh," pungkas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim