RADAR BOGOR - Saat memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menungkapkan visinya.
"Saya sejak dulu, ketika saya jadi wakil bupati, jadi bupati pertama meletakan dasar pembangunan, yang disebut visi, cukup kalimat saya, visi pembangunan berkarakter, sudah segitu saja," tuturnya.
Dedi Mulyadi mengungkapkan, pejabat Indonesia memiliki ciri khas tersendiri.
"Ciri khas pejabat Indonesia bisa dilihat dari visi misinya," lanjutnya.
Menurut Dedi Mulyadi, yang paling aneh saat kampanye.
"Visinya banyak banget. Saya lieur, iyeu teh karya sastra, ini novel atau fiksi, ceuk aing teh," pungkasnya yang disambut dengan gelak tawa peserta kuliah umum.
Dedi Mulyadi menuturkan, manusia berkarakter adalah manusia harus bersenyawa dengan tanah, air, udara, dan panas matahari.
"Maka orang yang sudah bersenyawa, akan memiliki energi yang besar, untuk membangun piranti kehidupan sampai puncak kebahagiaan hidup," jelasnya.
Puncak kebahagiaan hidup, Dedi Mulyadi melanjutkan, dimulai dari manusia secara sistemik.
"Maka pembangunan tidak boleh bertentangan dengan nilai tanahnya, pembangunan tidak boleh bertentangan dengan nilai udaranya.
"Pembangunan tidak boleh bertentangan dengan nilai airnya, pembangunan tidak boleh bertentangan dengan nilai panas mataharinya," bebernya.
Dedi Mulyadi menjelaskan, prinsip dasar yang memandang alam sebagai feminin.
"Maka sikap kita pada alam yang kita tinggali ini, sikap kita pada alam yang kita pinjam untuk hidup kita bernafas setiap waktu, perlakukanlah secara feminin," ungkapnya.
Maka, Dedi Mulyadi menerangkan, harus memperlakukan dengan langkah-langkah feminin.
"Maka prinsip pembangunannya, larangan kita untuk melakukan eksploitasi. Maka meletakkan kemakmuran dalam pembangunan, adalah seberapa besar dia menyayangi tanah air ini," tandasnya.
Editor : Siti Dewi Yanti