RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir sebagai pembicara dalam kuliah umum di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI).
Saat memberikan materi tentang budaya, Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah seluruh produktivitas hidup.
Ia mengungkapkan bahwa produktivitas hidup manusia berkaitan dengan kebudayaan itu ada tiga jenis.
“Kebudayaan itu kan seluruh produktivitas hidup. Bukankan produktivitas hidup manusia yang paling mendasar itu ada tiga,” ungkapnya dilansir dari YouTube Lembur Pakuan Channel pada 28 Mei 2025.
Lebih lanjut, kepala daerah yang disebut Bapak Aing tersebut memaparkan tiga jenis produktivitas manusia dengan budaya.
“Produktivitas hidup manusia itu yang paling mendasar ada satu adalah bahasa kebudayaan, dua adalah makna kebudayaan, ketiga adalah pakaian kebudayaan. Yang ketiga seni kebudayaan,” tuturnya.
Selain itu ia menyinggung bahwa peradaban barat sudah melakukan hegemoni pada bangsa Asia dalam beberapa hal, sehingga kita semua hanyut dalam produk tersebut.
“Dimulai dengan hegemoni bahasa, hegemoni pakaian, hegemoni seni, hegemoni makanan. Bukankah kita adalah produk itu,” ujar Dedi Mulyadi.
Karena kompleksnya budaya dapat mempengaruhi semua hal, seperti ilmu pengetahuan, kebiasaan, perilaku, produk barang jasa dan lain-lain.
Maka begitu krusialnya budaya dengan kehidupan dalam sebuah peradaban. Dedi sampai menyebut secara lugas bahwa di antara semua jurusan pendidikan yang ada di universitas, Fakultas Ilmu Budaya paling bernilai.
“Sehingga dalam perspektif saya yang paling bergengsi itu dalam sebuah universitas adalah Fakultas Kebudayaan,” ucapnya diikuti gemuruh tepuk tangan semua peserta yang hadir.
Menurut Dedi, sains itu hanya suatu bagian dan sains tanpa kebudayaan bagaikan hilang arah maupun tujuan, belum jelas ditujukan ke mana.
“Sains itu kan hanya bagian, sains itu hanya metodologi saja. Karena sains itu juga harus nyeni, harus berkebudayaan. Kalau sains tidak berkebudayaan, sains kita mau mengarah ke mana, ke peradaban mana,” tegasnya.
Jadi mulai matematika, fisika, kimia, arsitektur, astronomi, geologi dan lain-lain harus jelas mengarah pada peradaban mana.
Ia menambahkan yang membedakan orang berkebudayaan itu, apapun dilakukan pakai rasa. Bahkan kalau seseorang sudah berkebudayaan bahagia tidak gagal.
“Orang kebudayaan itu untuk bahagia nggak usah gagal. Orang kebudayaan itu, punya uang, nggak punya uang, ya begitu saja adanya. Nggak kelihatan,” pungkasnya.***