RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bertemu dengan Ibu Gusti Aju Dewi, seorang ahli grafologi, di Lembur Pakuan, Subang.
Program Pendidikan Kebangsaan (PPK) yang digagas oleh Dedi Mulyadi terus mendapatkan perhatian publik.
Dedi Mulyadi mengambil pendekatan disiplin semi militer yang ternyata juga memberi sentuhan psikologis dan emosional. Program ini dirancang dengan pendekatan personal, salah satunya melalui ilmu grafologi (ilmu membaca karakter seseorang melalui tulisan tangan).
Gusti Aju Dewi, sebagai salah satu mentor dalam PPK ini, merupakan ahli grafologi yang memiliki sertifikat internasional dan telah menekuni bidang ini selama 14 tahun.
Dalam video YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel yang diunggah pada 28 Mei 2025, Dedi Mulyadi berdialog dengan Gusti Aju Dewi membahas anak-anak yang mengikuti PPK.
“Anak-anak 273 itu semuanya nulis? Ibu baca satu-satu?” tanya Dedi Mulyadi.
“Iya, nulis. Saya tidak baca isinya, Pak,” jawab Gusti Aju Dewi.
Ia juga menambahkan, “Yang pertama saya cari, trigger-nya apa. Satu, permasalahan utamanya apa. Kemudian, trigger-nya apa, dan apa sih kebutuhan mereka, gitu. Karena ketika ada gejolak sosial tuh, ada sesuatu yang kurang pas, gitu, Pak. Itu sebetulnya ada sesuatu yang tidak match.”
Dedi Mulyadi yang mendengarkan penjelasan tersebut mulai mempertanyakan problem yang dialami anak-anak secara umum.
“Emosionalnya babak belur, Pak, mayoritas,” kata Gusti Aju Dewi.
“Emosionalnya babak belur, itu problem utamanya apa dari tulisan?” tanya Dedi Mulyadi.
“Mereka, problem yang paling utama adalah kesulitan untuk mendapat penerimaan. Kemudian, kedua, kesulitan untuk mengekspresikan diri mereka.”
Gusti Aju Dewi menjelaskan bahwa problem utama yang dialami oleh anak-anak yang mengikuti PPK adalah kesulitan untuk mendapat penerimaan dan mengekspresikan diri.
Diketahui, grafologi merupakan ilmu untuk mengetahui karakter seseorang melalui tulisan tangan dan tanda tangannya.
“Orang itu mengomentari konsepsi pendidikan yang kemarin saya lakukan itu dengan sebuah tuduhan. Tuduhannya itu: gerakan separatis absurd, tidak memiliki landasan filosofi pendidikan, tidak memiliki landasan filosofi psikologi, gitu lho, nggak ada manfaatnya,” kata Dedi Mulyadi.
Ia juga menambahkan, “apalagi dimasukin ke barang militer, nanti dia memiliki tingkat emosi lebih besar. Karena militer tuh kayak gini. Apa yang Ibu lakukan sebagai seorang yang punya lisensi global, apa yang Ibu lihat sebenarnya terjadi? Dan apakah benar dengan stigma yang dilihat oleh para pengamat itu?”
Menjawab beberapa pertanyaan tersebut, Gusti Aju Dewi menjawab melalui kacamata seorang grafolog.
Gusti Aju Dewi bergabung dalam PPK sebagai mentor, diajak oleh Ibu Cassandra, seorang psikolog klinis.
“Kami melakukan dua kali asesmen. Saya menggunakan grafologi, sedangkan Bu Cassandra dari psikologi klinis menggunakan wawancara dan psikotes. Hasilnya, mayoritas anak belum memiliki fondasi kejiwaan yang kuat,” ujarnya.
Gusti Aju Dewi juga mengungkapkan hal yang paling menonjol di antara anak-anak PPK ini, yaitu belum adanya keharmonisan pada diri sendiri.
“Di antara profil mayoritas anak-anak ini, yang paling utama menonjol yang saya lihat adalah keharmonisan dengan diri sendiri itu tidak ada.”
“Tindakan ini saya lakukan karena keadaan darurat. Ada kejadian-kejadian. Selama ini orang hanya kajian dan kajian saja. Saya bilang harus ada tindakan. Saya biasanya bertindak dulu baru dikaji,” kata Dedi Mulyadi.
Ia juga bertanya, “apakah pola dari sisi aspek grafologi, dan kemudian Ibu kan satu grup dengan Bu Kasandra sebagai psikolog, kan? Apakah metodologi yang kemarin dilaksanakan itu sudah bisa sebagai jalan untuk membentuk karakter manusia dan mengembalikan jati diri anak-anak?”
Dari hasil analisis Gusti Aju Dewi dan tim, disimpulkan bahwa terdapat ketidakseimbangan kebutuhan sosok figur ayah dan ibu.
Ketidakseimbangan ini menjadi faktor utama penyebab anak-anak mengalami ketidakharmonisan pada diri sendiri.
“Saya melihat dari interaksi anak-anak dengan para TNI, juga dengan kami, kami yakin bahwa pendekatan militer dengan psikologis ini bisa hadir sebagai sosok ayah dan ibu.”
Gusti Aju Dewi mengungkapkan hal tersebut setelah melihat interaksi anak-anak PPK dengan pelatih, yaitu para TNI yang bisa menjadi sosok ayah.
Kemudian, para mentor psikologis bisa menjadi sosok seorang ibu. Hal itu terlihat dari interaksi anak-anak yang mencari perhatian pada para pelatih dan juga mentor.
Diketahui, melalui grafologi juga bisa dilihat kondisi emosional dan latar belakang, serta memberikan jendela pemahaman yang lebih dalam terhadap pemilik tulisan tangan.
Gusti Aju Dewi merupakan seorang grafolog Indonesia yang bergabung dalam PPK, berperan sebagai mentor bagi anak-anak yang mengikuti program tersebut.***
Editor : Eli Kustiyawati