RADAR BOGOR – Sebuah insiden tak terduga terjadi dalam acara Nganjang ka Warga di Subang yang digelar oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Acara yang awalnya berlangsung haru, diwarnai dengan wejangan mendalam kepada seorang ibu yang ditinggalkan suaminya dan harus membesarkan empat anak seorang diri, tiba-tiba terganggu oleh sekelompok orang yang melakukan aksi demonstrasi bertema sepak bola.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram @dedimulyadi71, tampak jelas momen saat Gubernur Dedi Mulyadi naik pitam setelah sekelompok pemuda mengangkat spanduk bertuliskan “Selamatkan Persikas” dan meneriakkan yel-yel di tengah suasana haru.
Aksi itu dinilai tidak memiliki adab karena dilakukan saat seorang ibu sedang mencurahkan penderitaannya.
“Hey, berhenti kamu, duduk! Ini bukan forum Persikas, ini forum saya!” kata Dedi Mulyadi dengan nada tinggi dari atas panggung.
“Siapa kamu? Turunkan spanduknya! Turunkan! Hey, jangan sok jago kamu di sini! Teu mikir kamu! Ini penderitaan rakyat, bukan urusan Persikas!” kata Gubernur dengan nada tegas.
Kemarahan Gubernur Dedi Mulyadi tidak semata karena aksi protes, tetapi karena waktu dan tempatnya dinilai sangat tidak tepat.
Di tengah air mata seorang ibu yang mengungkapkan kesedihan hidupnya, para demonstran justru menyuarakan kepentingan klub sepak bola Persikas yang disebut-sebut berpolemik akibat berpindah tangan.
Melalui unggahan video klarifikasi di akun Instagram-nya, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa sikap tegasnya muncul karena kehilangan empati di tengah masyarakat yang terlalu mengedepankan ego atas nama kelompok.
“Saya malam itu marah karena ada sekelompok orang yang tidak memiliki adab dalam hidupnya. Saat air mata jatuh karena rasa empati terhadap derita seorang ibu, mereka justru berteriak menyelamatkan Persikas. Ini bukan hanya soal adab, tapi soal hilangnya hati dan cinta,” ujar Dedi.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa tindakannya bisa saja dipelintir menjadi citra pemimpin yang emosional, tetapi ia tidak peduli akan framing semacam itu.
“Bagi saya, mendidik rakyat jauh lebih penting daripada sekadar memikirkan popularitas dan elektabilitas,” pungkasnya.***
Editor : Eli Kustiyawati