RADAR BOGOR - Saat bertemu psikolog klinis yang menangani siswa di barak militer, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanyakan perkembangan anak-anak yang menjalani pendidikan karakter.
"Dari apa yang ibu lihat, melewati masa 14 hari, dan terakhir di Hari Kebangkitan Nasional. Apa yang dilihat oleh ibu terhadap perkembangan anak-anak itu?" tanyanya
Salah satu psikolog menjelaskan, ada perubahan perilaku yang signifikan.
"Signifikan menurut saya, waktu assessment awal susah diatur," ungkapnya.
"Assessment awal susah diatur?" tanya Dedi Mulyadi.
Psikolog menuturkan, anak-anak tersebut sulit diatur.
"Setelah di akhir, mereka jauh lebih kooperatif, lebih mudah diatur, engga terlalu ribet. Kalau waktu di awal, kita ngasih assessment awal, effortnya besar banget," jelasnya.
Mendengar hasil penilaian para psikolog, Gubernur Jawa Barat menilai orang tua berlaku tidak tegas dan tidak bisa memberikan ruang yang nyaman bagi anak-anak.
"Lingkungannya sudah bising, dan bisa menjadi sarang kriminal. Sekolahnya bukan lagi tempat yang nyaman," lanjutnya.
Psikolog mengatakan, anak-anak tersebut kebanyakan mendapatka pola asuh permisif dan pengabaian keluarga.
"Jadi, terserah aja ngapain mereka, engga ada yang mengarahkan. Harusnya diarahkan, ada ketegasan, ada aturan," ujarnya.
"Buktinya, masih ada yang engga dijemput bu. Sehingga saya katakan, bahwa aktifitas ini memberi manfaat," tegas Dedi Mulyadi.
Setidaknya, Gubernur Jawa Barat melanjutkan, anak-anak yang terabaikan masih bisa ikut dengannya.
"Kalau tidak ada ini, saya engga mungkin ketemu mereka," terangnya.
Dedi Mulyadi mengapresiasi dan berharap bisa bekerja sama berkesinambungan untuk menyelesaikan masalah anak-anak Jawa Barat.
"Kami percaya Pak, Jawa Barat akan menjadi pelopor pendidikan karakter, kami mensupport Bapak," tandas psikolog.
Editor : Siti Dewi Yanti