RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjawab sejumlah pertanyaan awak jurnalis yang ditujukan kepadanya.
Setelah menyudahi wawancara, beberapa pekerja tambang Gunung Kuda Cirebon menghampiri Dedi Mulyadi dan mengeluhkan keputusan pencabutan izin pertambangan.
"Pak, kami sebagai kuli tambang," ucap salah satu pekerja tambang.
Dedi Mulyadi menjelaskan, harus menyelesaikan terkait pertambangan yang longsor.
"Kan musibah, kalau sekarang saya harus menyelesaikan yang besar dulu," ungkapnya.
Menurut Dedi Mulyadi, pekerja tambang bisa mendapatkan pekerjaan yang serupa seperti di pertambangan Gunung Kuda Cirebon.
"Kuli kan Bapak bisa ganti, kuli bangunan, kuli nyangkul, kuli tenaga kebersihan. Banyak pekerjaan.
"Bapak nangis karena kehilangan pekerjaan, orang lain nangis karena kehilangan nyawa Pak," pungkas Gubernur Jawa Barat.
Pekerja tambang mengungkapkan, penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari.
"Buat makan Pak," ujar pekerja tambang.
"Iya, buat makan juga. Tapi kalau meninggal mau apa?" tanya Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat menjabarkan, penghasilan yang diterima pekerja tambang di daerah tersebut.
"Kan kuli dapatnya berapa pertambangan. Kan saya dulu, udah nanya satu-satu, Rp100 ribu, Rp150 ribu," bebernya.
Dedi Mulyadi menjelaskan, keluarga yang ditinggalkan oleh korban meninggal tidak ditanggung penambang.
"Tapi sekarang gini, keluarga yang ditinggalkan mungkin 21 orang. Siapa yang menanggung? Yang nambangnya nanggung engga? Pemerintah lagi Pak," pungkasnya.
"Nanti diperhatikan Pak, sudah didata semua," jelas Sekda Jabar Herman Suryatman kepada pekerja tambang tersebut.
Sebagai informasi, Gubernur Jawa Barat menjelaskan anak korban meninggal yang masih sekolah akan ditanggung biaya pendidikannya hingga jenjang SMA.
"Bila perlu sampai perguruan tinggi," tegas Dedi Mulyadi.
Editor : Siti Dewi Yanti