RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, belum lama ini bertemu dengan salah satu psikolog yang ikut menangani anak-anak remaja saat pendidikan di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi.
Seorang psikolog klinik forensik memaparkan perkembangan anak-anak saat awal masuk serta selama menempuh pendidikan di barak militer.
Umumnya, mereka menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari segi perilaku, pola pikir, kedisiplinan, dan lain-lain. Ada yang semula takut justru menjadi berani, bahkan betah ikut pendidikan di barak militer.
Melansir informasi dari YouTube Lembur Pakuan Channel pada 2 Juni 2025, ada beberapa alumni Sekolah Kebangsaan Panca Waluya yang lebih memilih tinggal bersama Dedi Mulyadi di Pakuan. Mereka mengaku ingin kembali ke barak militer.
Dedi Mulyadi menyambut hangat keinginan anak-anak tersebut, bahkan ia menanyakan siapa saja yang ingin mengikuti pendidikan lagi.
“Siapa yang mau ikut lagi, pendidikan lagi?” tanya Dedi Mulyadi.
Secara serentak, beberapa anak menawarkan diri untuk ikut serta lagi dalam pendidikan di barak. Mereka menyebut bahwa di sana selalu merasa senang, ramai, banyak teman, seru, dan penuh kebersamaan.
“Kamu kenapa pengen ikut lagi?” kata Dedi Mulyadi.
“Senang, ramai, seru aja,” ucap mantan siswa Sekolah Kebangsaan Panca Waluya.
Di hadapan para psikolog yang hadir, Dedi Mulyadi secara tegas memberi lampu hijau kepada anak-anak alumni Sekolah Kebangsaan Panca Waluya gelombang dua.
Menariknya, kepala daerah yang kerap disapa Bapa Aing ini langsung menantang anak-anak alumni yang pernah mengikuti pendidikan untuk menjadi asisten pelatih.
“Oke, nanti gelombang kedua boleh ikut jadi pelatih. Ya kan boleh dong, asisten pelatih ya,” ucapnya.
Meskipun begitu, mereka tetap harus menempuh sekolah formal. Masuk ke barak hanya dilakukan saat libur sekolah yang panjang.
“Oke, nanti kamu gelombang kedua boleh ikut jadi asisten pelatih, tapi tetap sekolah formal,” ujarnya.
“Sekolah formalnya kan nanti sudah jalan. Eh, enggak, kan nanti kita masuk lagi setelah liburan, kan,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa anak-anak alumni harus ujian dulu. Ketika liburan sekolah yang hampir satu bulan, waktu tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengikuti pendidikan kembali ke barak, namun sebagai asisten pelatih.
“Dia ujian dulu. Kan pas liburan sebulan, ya. Itu kan pas liburan. Sudah kenaikan kelas, nanti gelombang berikutnya,” sambungnya.
“Waktu liburan yang satu bulan itu dimanfaatkan untuk pelatihan. Jadi, nanti kamu jadi asisten pelatih, ya,” tuturnya.***
Editor : Eli Kustiyawati