RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi melaporkan berbagai masalah pertanian sampai dengan kebiasaan masyarakat kepada Menteri Pertanian serta Jaksa Agung.
Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, walaupun kawasan Karawang, Subang, Cirebon, dan Bekasi memiliki sawah yang luas namun banyak rakyatnya tidak memakan beras yang ditanamnya sendiri.
Dedi Mulyadi menegaskan, banyak warga lebih mengandalkan dana program keluarga harapan atau dikenal PKH, bantuan pangan non tunai yang dulu biasa disebut raskin.
Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, masalahnya yakni ketika mereka panen, maka satu ketika masuk pematang sawah sudah dibeli oleh bandar.
Kemudian, kata Dedi Mulyadi, uangnya masuk ke saku dan pulang ke rumah langsung hajatan.
Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, musim panen menikahkan sedangkan masuk musim paceklik cerai.
Lebih lanjut Gubernur Jawa Barat mengatakan, uang hasil kuli tandur tersebut habis hanya dalam waktu satu minggu untuk kondangan.
Selain itu, sambung Dedi Mulyadi, orang Karawang dan Bekasi masih punya kebiasaan arisan yaitu kalau ke undangan bawa beras dua dua gantang atau 20 liter kadang kuintalan.
Tidak hanya itu, saat musim hajatan memperoleh banyak kiriman hadiah, tapi ketika selesai acara harus membayarnya.
"Itu kemiskinan terjadi," kata Gubernur Jawa Barat kepada Jaksa Agung dan Menteri Pertanian.
Dedi Mulyadi menambahkan, apabila datang ke undangan dicatat, nanti kalau tidak bayar ke undangannya ditagih ke rumahnya.
"Ini tradisi yang ada di sini, saya pelan-pelan mengubah," jelas Gubernur Jawa Barat.
Selanjutnya, papar Dedi Mulyadi, warga miskin pun memaksakan diri untuk menyelenggarakan acara hiburan yang akhirnya pinjam ke bank emok atau rentenir.
Gubernur Jawa Barat menjelaskan, bunga dari bank emok tersebut sangat besar, tak main-main yakni 10 sampai 20 persen.
Biasanya, nasabah bayar ada yang setiap hari bahkan mingguan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim