RADAR BOGOR – Dedi Mulyadi mengkritisi pola pendidikan Barat yang belum tentu bisa diterapkan di Indonesia, termasuk dalam dunia kerja sekalipun.
Gubernur Jawa Barat yang dikenal dengan sebutan Bapa Aing tersebut, dalam kanal YouTube Lembur Pakuan Channel yang diunggah pada 4 Juni 2025, memberi contoh bahwa beberapa pekerjaan mungkin sulit dilakukan oleh mereka yang pernah mengenyam pendidikan Barat.
“Orang yang pendidikan Barat, jangankan memimpin yang terlalu besar, disuruh jadi kepala desa belum tentu kuat. Ahli perbankan di Amerika disuruh pimpin BJB belum tentu kuat. Kenapa? Di Amerika nggak ada nginjek, di sana kalau ingin mendapatkan pinjaman, ya ada prosesnya,” ungkapnya.
Dedi Mulyadi kembali memberi contoh tentang bagaimana sebuah sertifikat pendidikan tinggi atau profesi seolah tergadaikan oleh moral.
Hingga satu perusahaan bangkrut, mereka masih berani menipu perbankan, entah bank pemerintah maupun bank daerah.
“Hanya di Indonesia, Pak. Satu perusahaan bangkrut bisa nipu seluruh bank—bank pemerintah maupun bank daerah. Namanya Sritex. Hanya di Indonesia. Padahal, direkturnya itu dulu pernah lulus OJK, ada sertifikat. Hanya di Indonesia, sertifikat itu tidak bermakna terhadap moralitas,” paparnya.
Maka dari itu, menurutnya penting memiliki fondasi yang kuat dan tidak ikut ke sana-sini. Setelah mendeklarasikan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia, maka harus totalitas untuk kepentingan rakyat. Seperti dirinya saat ini.
“Maksud saya, kalau saya sudah mendeklarasikan: saya mah orang Indonesia, saya orang Sunda, saya pakai gayanya begini, ya sudah terserah. Kemudian saya akan terus bekerja mengembalikan alam ini, mengembalikan anggaran ini agar jatuh pada rakyat,” tuturnya.
Karena beberapa hal tersebut, lebih lanjut Dedi mengungkapkan gagasannya untuk memperbaiki pola pikir rakyat. Ia menganggap orang Sunda geus kapiuhan—sudah seperti kerasukan.
“Dan saya ingin mengubah pola berpikir rakyat. Hari ini, orang Sunda itu geus kapiuhan. Orang Sunda itu sudah kasurupan, dan yang kasurupannya bukan oleh Prabu Siliwangi, tapi oleh Spiderman,” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa jika ingin benar-benar mengubah pola pikir, maka harus dimulai dari mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Karena mereka adalah generasi emas penerus cita-cita luhur bangsa.
“Saya ingin mengubah pola mereka. Saya ingin membangun mereka. Bagaimana sekolah mereka harus dimulai pukul 06.30. Kenapa? Agar mereka bisa bangun pagi, jalan kaki, dan ibu-ibunya bisa memasak di rumah. Agar mereka bisa makan makanan sehat,” tuturnya.
Dedi meyakini bahwa setiap makanan yang dimasak oleh ibu mereka mengandung nilai, roh, dan jiwa sang ibu.
“Kenapa? Karena dalam masakan ibunya, dalam sayur ibunya, dalam air minum yang diberikan ibunya, ada nilai, ada roh, ada jiwa ibunya,” pungkasnya.***
Editor : Eli Kustiyawati