RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ingin semua daerah mempunyai ketahanan pangan yang kuat.
Menurut Dedi Mulyadi, dalam tradisi budaya Sunda, yang pertama orang Sunda menyebut padi adalah nyipohaci.
Gubernur Jawa Barat menegaskan, sebagai bentuk penghargaan maka padi biasanya tidak boleh diperjualbelikan, namun wajib disimpan sebagai bentuk ketahanan lingkungan.
Nah yang kedua, sambung Dedi Mulyadi, menyimpannya itu yang pertama kalau ibu-ibu haknya itu di padaringan.
Gubernur Jawa Barat menambahkan, itu adalah sebuah tempayan yang diisi dengan beras dan tidak boleh kosong.
Tidak hanya itu, kata Dedi Mulyadi, mengambilnya pun tidak boleh sambil nungging tapi harus duduk emok.
Kemudian, ungkap Gubernur Jawa Barat, diambil dengan penuh cinta.
Dedi Mulyadi menegaskan, laki-laki tidak boleh masuk karena tidak punya perasaan.
"Kalau nanti ngambilnya nungging, kemudian tidak ada, nanti yang ada gentongnya tempayannya dijual kalau laki-laki," jelas Dedi Mulyadi.
Yang kedua, tutur Gubernur Jawa Barat, untuk menyimpan kepentingan keluarga dalam jangka pendek maka padi punya goah.
Untuk jangka panjang, jelas Dedi Mulyadi, maka padi punya leuit.
Untuk kepentingan umum, maka padi punya lumbung dan semua sekarang tidak ada.
"Mudah-mudahan ke depan Bupati Bekasi kita bisa pelopori, mari kita kembalikan," papar Gubernur Jawa Barat.
"Rakyat kita punya cadangan beras, punya cadangan padi, dan punya cadangan padi yang disimpan di tempat umum namanya lumbung," tutur Dedi Mulyadi.
Sehingga, kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, ketahanan pangan bisa berputar dan tidak selalu menjadi tanggung jawab Bulong. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim