RADAR BOGOR - Banyaknya generasi muda yang keranjingan hand phone dan media sosial, membuat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi harus mengeluarkan sejumlah strategi.
Menurut Dedi Mulyadi, membangun banyak gerbang perbatasan seperti raja-raja membuat batas wilayah sebagai bentuk identitas diri dan membangun pertahanan wilayahnya dari pengaruh orang lain pasti bisa dirinya lakukan.
"Tetapi hari ini, kita tidak bisa membendung pengaruh orang lain pada diri kita, karena sudah abadnya digital," jelas Gubernur Jawa Barat saat di Desa Tonjong, Cirebon.
"Kita tidak bisa membangun lagi pagar setinggi 20 meter atau 30 meter agar rumah kita tidak bisa dimasuki orang lain," kata Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut Gubernur Jawa Barat mengatakan, fisiknya tidak masuk tapi pengaruhnya akan masuk melalui media sosial.
Maka, kata Dedi Mulyadi, bertindaklah adil dalam media sosial tersebut.
Gubernur Jawa Barat menegaskan, anak-anak belum layak punya akun, sehingga jangan membuat akun.
Sebab, sambung Dedi Mulyadi, akun hanya diperbolehkan bagi orang yang sudah memiliki NIK (nomor Induk Kependudukan) atau Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Sudah jelas, tutur Gubernur Jawa Barat, dalam mengoperasikan handphone tidak boleh menggunakan nama orang lain atau harus menggunakan KTP sendiri.
Artinya, jelas Dedi Mulyadi, setiap penduduk yang memiliki nomor handphone dan nomor akun harus sesuai dengan jumlah NIK serta jumlah KTP-nya.
"Apa sih tujuan dari itu? melindungi anak-anak kita dari pengaruh media sosial yang bisa jadi, akun game online terlarang bukan untuk anak remaja, dewasa pun enggak boleh," papar Gubernur Jawa Barat.
"Game bisa jadi bukan untuk anak remaja, akun-akun tidak baik bukan untuk anak remaja, apalagi anak-anak. Maka batasan itu harus dilakukan," ungkap Dedi Mulyadi.
Untuk itu, Gubernur Jawa Barat meminta, ibu dan bapak harus mengerti teknologi.
"Lihat anak-anak kita pegang hand phone belum waktunya, jangan diberi HP," ucap Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat menambahkan, jika alasannya adalah bahwa nanti di sekolah tidak bisa menghubungi, maka dulu juga dirinya ke sekolah dilepas tidak ada masalah.
"Kan orang sini juga melepas dalam setiap hari. Apa artinya? anak dikasih HP agar mudah dihubungi sedangkan jam 11.00 malam dia belum pulang. Apa makna dari HP itu?," pungkas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim