Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Jelaskan Filosofi Raja-Raja Membangun Gerbang-Gerbang Perbatasan sebagai Simbol Pertahanan Sekaligus Identitas Budaya

Ahmad Susandi • Sabtu, 7 Juni 2025 | 08:05 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjelaskan filosofi raja-raja membangun gerbang-gerbang perbatasan sebagai simbol pertahanan sekaligus identitas budaya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjelaskan filosofi raja-raja membangun gerbang-gerbang perbatasan sebagai simbol pertahanan sekaligus identitas budaya.

RADAR BOGOR — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa konsep pembangunan saat ini tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik, melainkan juga harus mencakup pembangunan mental dan ketahanan sosial, terutama dalam menghadapi pengaruh negatif di era digital.

Pernyataan ini disampaikan Dedi Mulyadi saat khutbah Idul Adha di perbatasan wilayah Tonjong, sebuah kawasan strategis yang berbatasan langsung dengan wilayah lain.

Dalam khutbahnya, Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa pembangunan jalan senilai Rp20 miliar tersebut akan selesai pada tahun ini.

 Baca Juga: Dalam Khutbah Idul Adha di Cirebon, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Menyampaikan Pesan Pentingnya Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak

"Pembangunan bukan hanya soal membangun jalan. Sebagaimana yang tadi diungkapkan, membangun jalan perbatasan di wilayah Tonjong sudah dihitung sejak kemarin. Biayanya Rp20 miliar, dan kita akan selesaikan tahun ini juga," jelasnya.

Namun, lebih dari sekadar jalan, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya membangun identitas wilayah dan rasa kebanggaan lokal.

Ia mengutip filosofi lama, di mana raja-raja membangun gerbang-gerbang perbatasan sebagai simbol pertahanan sekaligus identitas budaya.

 Baca Juga: Bisa Saja Gubernur Jawa Barat Membangun Banyak Gerbang yang Tinggi Seperti Para Raja, Dedi Mulyadi: Jangan Bikin Akun!

"Membangun gerbang-gerbang perbatasan sebagaimana raja-raja membuat batas-batas wilayah sebagai bentuk identitas diri dan membangun pertahanan wilayahnya dari pengaruh orang lain, pasti bisa saya lakukan," ungkap Dedi Mulyadi.

Namun, Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa tantangan zaman kini berbeda. Jika dahulu pagar atau tembok bisa membendung pengaruh fisik, di era digital seperti sekarang, pengaruh justru datang dari media sosial yang melampaui sekat-sekat geografis.

"Hari ini kita tidak bisa membendung pengaruh orang lain pada diri kita karena sudah masuk abad digital. Kita tidak bisa membangun lagi pagar setinggi 20 meter atau 30 meter agar rumah kita tidak bisa dimasuki orang lain. Fisiknya tidak masuk, tapi pengaruhnya akan masuk melalui media sosial," tegasnya.

 Baca Juga: Pesan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam Khutbahnya: Maqam Tertinggi dalam Hidup adalah Kecintaan

Ia mengajak seluruh masyarakat, terutama di wilayah perbatasan, untuk bersikap bijak dalam menggunakan media sosial.

Menurut Dedi Mulyadi, diperlukan kecerdasan emosional dan integritas moral agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh konten negatif yang beredar secara masif di dunia maya.

"Maka, bertindaklah adil dalam media sosial ini," pungkasnya.***

Editor : Eli Kustiyawati
#dedi mulyadi #pembangunan #gubernur jawa barat #idul adha