RADAR BOGOR — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa kebijakan pembatasan jam malam bukan semata-mata tindakan pengendalian sosial, melainkan bagian dari strategi pendidikan karakter dan kesehatan bagi anak-anak.
Dalam sebuah khutbah Idul Adha, Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa dirinya ingin membangun kembali kebiasaan hidup sehat dan disiplin di kalangan generasi muda.
“Pembatasan jam malam sesungguhnya bagian dari saya ingin mengembalikan anak-anak agar bisa tidur jam 08.00 malam,” ujar Dedi Mulyadi.
Menurutnya, tidur cukup pada malam hari akan memberikan kesegaran fisik dan mental bagi anak-anak, sehingga mereka bisa menjalani aktivitas harian dengan optimal.
“Agar mereka mendapat istirahat yang cukup, yang pada akhirnya setelah istirahat cukup mereka bisa bangun jam 04.00 pagi, bisa mandi, bisa merapikan tempat tidurnya, bisa salat subuh, bisa sarapan, dan ke sekolahnya bisa berjalan kaki,” lanjutnya.
Lebih jauh, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa berjalan kaki ke sekolah bukan hanya soal kesederhanaan, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi kesehatan anak.
“Agar kaki anak-anak kita kokoh, agar jantungnya sehat, agar napasnya panjang, agar keringatnya keluar,” katanya.
Dedi Mulyadi juga menepis anggapan bahwa anak-anak tidak bisa menikmati aktivitas pagi karena mengantuk. Ia mencontohkan tradisi pesantren yang telah lama mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu pagi.
“Bukankah pesantren mengajarkan baca kitab setelah salat subuh? Bukankah guru-guru, kiai-kiai besar kita yang paham betul makna pendidikan, melahirkan banyak orang saleh dengan mengajarkan momentum subuh sebagai bagian dari pendidikannya?” ungkap Dedi Mulyadi.
Ia bahkan mengingatkan praktik keras dalam pendidikan pesantren era 70-an, di mana anak-anak dibangunkan tengah malam untuk tahajud dan belajar hidup sederhana.
“Bukankah di pesantren-pesantren anak dibangunkan tengah malam untuk tahajud? Bukankah pesantren tahun 80-an, 70-an, meletakkan batok kelapa sebagai ganjal kepalanya? Yang dilahirkan anak-anak saleh,” tambahnya.
Bagi Dedi Mulyadi, kesalehan anak-anak tidak hanya diukur dari asupan gizi atau teknologi yang dimiliki, melainkan juga dari pembentukan spiritualitas yang kuat.
“Anak-anak saleh jangan hanya dipahami oleh makanan yang bergizi, jangan hanya dipahami berbagai teknologi, tapi anak saleh akan lahir dari spiritualitas yang memadai,” pungkas Dedi Mulyadi.
Kebijakan ini diharapkan dapat membantu menciptakan generasi muda yang sehat, tangguh, dan berkarakter kuat, sejalan dengan nilai-nilai budaya dan spiritualitas bangsa.***
Editor : Eli Kustiyawati