Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Pakar Neuroscience Tanggapi Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Soal Masuk Sekolah Jam 6 Pagi, Trisa: Risiko Depresi Meningkat

Ahmad Susandi • Minggu, 8 Juni 2025 | 19:21 WIB
Pakar neuroscience Trisa Triandesa menilai kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi soal masuk sekolah jam 6 pagi berisiko besar terhadap kesehatan otak anak dan remaja.
Pakar neuroscience Trisa Triandesa menilai kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi soal masuk sekolah jam 6 pagi berisiko besar terhadap kesehatan otak anak dan remaja.

RADAR BOGOR — Usulan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk memajukan jam masuk sekolah menjadi pukul 6 pagi menuai beragam tanggapan.

Salah satunya datang dari Trisa Triandesa, seorang pemerhati pendidikan sekaligus lulusan magister neuroscience, memberikan tanggapan untuk kebijakan Dedi Mulyadi tersebut.

Lewat akun Instagram @trisatriandesa, Trisa menyampaikan pandangannya secara lugas kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

"Kang Dedi, punten pisan ieu mah," kata Trisa di awal pesannya seraya memperkenalkan diri.

"Nepangkeun, wasta pun Trisa. Kaleresan abdi S2 neuroscience, jadi insyaallah tahu satu dua hal soal otak."

Menurut Trisa, dari sudut pandang neuroscience, kebijakan masuk sekolah jam 6 pagi justru berisiko besar bagi kesehatan otak dan perkembangan anak.

Ia memaparkan bahwa kebutuhan tidur anak-anak usia sekolah dasar (SD) hingga remaja berbeda, dan memaksakan mereka bangun terlalu pagi bisa membawa dampak negatif yang serius.

"Anak-anak SD usia 6–12 tahun memang secara biologis cenderung bangun lebih pagi dan otaknya relatif siap untuk belajar di pagi hari. Tapi mereka tetap butuh 9–11 jam tidur per malam," ujarnya.

Jika jam masuk dipercepat, artinya anak-anak harus tidur sejak pukul 7 malam atau bahkan lebih awal bagi yang rumahnya jauh dari sekolah.

Realita ini sulit diwujudkan, terutama di tengah berbagai aktivitas keluarga dan sosial yang biasa berlangsung hingga malam.

Namun, kekhawatiran terbesar Trisa justru ditujukan untuk remaja SMP dan SMA.

"Nah, ini yang paling terdampak, Kang," katanya.

Otak remaja secara alami mengalami pergeseran ritme sirkadian (jam biologis) saat masa pubertas. Pergeseran ini menyebabkan remaja secara fisiologis lebih sulit tidur sebelum pukul 11 malam.

Memaksa mereka bangun jam 4 atau 5 pagi hanya akan membuat mereka mengalami kekurangan tidur kronis.

"Efeknya Kang? Konsentrasi menurun, memori terganggu, emosi kurang stabil, risiko depresi meningkat, dan prestasi akademik bisa merosot," papar Trisa.

Berbagai studi neuroscience menunjukkan bahwa jam sekolah ideal untuk remaja adalah mulai pukul 08.30 atau bahkan lebih siang.

Waktu paling optimal untuk belajar dan fokus berkisar antara pukul 09.00 hingga 10.00 pagi.

"Kalau tujuannya adalah membentuk karakter dan disiplin anak, bukan lewat cara yang mengorbankan otak mereka," tambahnya.

Dengan nada mengingatkan, Trisa menutup pesannya:

"Emangnya mau kualitas warga Jabar di masa mendatang menurun? Nanti Kang Dedi, loh, yang disalahin."

Ia juga mengutip sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa memundurkan jam sekolah justru meningkatkan prestasi, suasana hati (mood), dan kesehatan mental peserta didik.

Di akhir pesannya, Trisa berharap agar kebijakan pendidikan di Jawa Barat tetap mempertimbangkan proses perkembangan otak alami anak dan berlandaskan riset yang valid.

"Jam masuk sekolah sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan otak alami anak atau peserta didik, bukan sekadar soal disiplin semata," pungkasnya.***

Editor : Eli Kustiyawati
#dedi mulyadi #Trisa Triandesa #jam masuk sekolah #gubernur jawa barat