Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gunakan Prinsip Ekonomi Orang Sunda, Gubernur Jawa Barat Ingin Pedesaan Jadi Pusat Produksi, Dedi Mulyadi: Saeutik Mahi Loba Nyesa

Mera Puspita Sari • Kamis, 12 Juni 2025 | 10:32 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat menyampaikan keinginan menjadikan pedesaan sebagai pusat produksi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat menyampaikan keinginan menjadikan pedesaan sebagai pusat produksi

RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, belum lama ini menyampaikan gagasan penting untuk memajukan pedesaan di hadapan para pejabat daerah. Gagasan itu disampaikannya pada 11 Juni 2025 di Karawang.

Mengutip dari kanal YouTube Lembur Pakuan Channel, Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kerangka berpikir yang sangat tradisional dalam memajukan perekonomian.

“Saya ini orang tradisional, tidak ngerti digitalisasi, tidak ngerti inflasi, tidak ngerti apa pun. Tapi saya berangkat dari kerangka berpikir yang sangat tradisi. Saya tradisi ekonominya, ilmu ekonomi saya nggak ngerti,” ungkapnya.

Namun demikian, Dedi menegaskan bahwa ia sangat memahami adanya dua karakter utama masyarakat di Jawa Barat, yang menurutnya menjadi dasar dalam memajukan perekonomian daerah.

“Saya memahami bahwa Jawa Barat ini memiliki dua hamparan karakter manusia. Yang pertama adalah hamparan pedesaan. Yang kedua adalah hamparan perkotaan,” tuturnya.

Sebagai Gubernur, Dedi Mulyadi memiliki harapan besar agar daerah pedesaan bisa menjadi pusat produksi.

“Pedesaan itu harus menjadi pusat produksi,” ucapnya.

Keinginan itu, lanjut Dedi, dapat terwujud dengan baik apabila menggunakan prinsip ekonomi orang Sunda.

“Maka orang Sunda itu prinsip ekonominya sederhana: saeutik mahi loba nyesa,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Dedi menjelaskan makna dari prinsip saeutik mahi loba nyesa sebagai konsep ekonomi asli masyarakat Sunda.

“Saeutik mahi loba nyesa itu apa sih? Apa pun yang ada dalam potensi diri kita, itu adalah kekuatan kita dan itu sebuah nilai. Manakala ada yang lebih banyak lagi, itu adalah investasi,” paparnya.

Ia pun menganalogikan prinsip itu dengan cara sang ibu mengelola keuangan keluarga, sehingga sembilan anaknya dapat bersekolah tanpa mengalami kekurangan.

Menurut Dedi, guru terbaik yang mengajarkannya tentang manajemen ekonomi adalah ibunya sendiri.

“Manajemen ekonomi saya itu belajar dari manajemen ekonomi ibu saya. Bagaimana anak sembilan. Bapak saya cuma prajurit kepala palang tiga. Punya ¼ hektare sawah, ¼ hektare kebun, punya satu kolam. Itulah modal kami hidup,” tuturnya.

Seluruh sumber daya itu, lanjut Dedi, menjadi siklus ekonomi keluarga hingga mereka bisa hidup layak dan bersekolah tanpa berutang sedikit pun.

“Dari ¼ hektare sawah, satu kolam, kemudian ¼ hektare kebun, kebun bambu, kebun jengkol, itu menjadi siklus ekonomi yang bisa mengantarkan anak-anaknya sekolah dengan baik tanpa meninggalkan utang,” pungkasnya.***

Editor : Eli Kustiyawati
#dedi mulyadi #memajukan perekonomian #gubernur jawa barat #memajukan pedesaan