RADAR BOGOR – Saat menghadiri acara di Karawang pada 11 Juni 2025 bersama jajaran pejabat daerah, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkap problem terbesar saat ini, yakni pertanian.
“Apa problem kita hari ini? Problem kita hari ini adalah di pertanian,” ungkapnya, dikutip dari YouTube Lembur Pakuan Channel pada 12 Juni 2025.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi juga menuturkan mahalnya biaya produksi, mulai dari peralatan, pupuk, hingga tenaga manusia yang digunakan.
“Traktor sewanya mahal. Kuli itu sebedug hari ini Rp100.000 sampai Rp120.000. Kuli ngarambet hari ini itu sebedug Rp50.000 sampai Rp70.000. Sampai jam 3 sore Rp100.000 di daerah saya,” tuturnya.
“Apalagi pupuk itu memang hari ini mudah didapat. Tapi siklus jumlah pupuk semakin tinggi dosisnya. Kenapa? Karena unsur haranya semakin menurun,” imbuhnya.
Dedi Mulyadi juga menuturkan bahwa mikroorganisme di sawah sudah tidak seperti dulu. Termasuk sumber pangan lokal seperti belut, keong, atau tutut yang semakin langka akibat pengolahan yang keliru.
“Mikroorganismenya hilang di sawah-sawah, cacingnya hilang. Kemudian keongnya adalah musibah, bukan berkah. Dulu keong itu menjadi produktivitas publik,” paparnya.
“Orang-orang ngambil tutut, kemudian ngambil keong. Maka itu stimulus bagi panganan rakyat. Belut di sawah sudah hilang karena pestisida dan disetrum. Akhirnya sawah hari ini bukan jadi pusat andalannya,” sambungnya.
Karena kondisi ekosistem sawah berbeda jauh dari dulu, banyak petani saat ini hanya mengandalkan gabah. Produktivitas lain seperti belut dan keong sawah, baik untuk dijual kembali maupun konsumsi pribadi, sudah sangat minim. Akibatnya, siklus harian pun tidak berjalan baik.
“Andalannya cuma satu: jual gabah dalam ketika pari. Sehingga petani itu betul-betul bergantung pada penjualan gabah. Siklus hariannya ini tidak terisi,” ucapnya.
Agar petani bisa maju dan makmur, Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa solusinya adalah proses produksi secara mandiri.
“Kalau negara ini ingin maju, kalau petani ingin maju, maka seluruh proses produksi harus mandiri. Tanpa proses produksi mandiri, mohon maaf, berat mencapai kemakmuran,” kata Bapa Aing.
Selanjutnya, Dedi menganalogikan bahwa petani yang bisa bertahan adalah mereka yang memiliki lahan ¼ hektare dan mengerjakan semuanya sendiri. Dengan demikian, tidak ada pembengkakan biaya produksi.
“Saya ini petani. Harga gabah Rp7.000 itu masih berat sebenarnya. Jadi, petani yang bisa bertahan itu adalah yang sawahnya ¼ hektare. Kenapa? Karena mereka bertahan dengan mengerjakan sendiri,” ungkapnya.
“Macul ku sorangan, ngawalu ku sorangan, memupuk ku sorangan, semua sendiri. Tapi kalau sudah dikulikan, nggak seimbang antara biaya produksi dengan hasil produksi,” pungkasnya.***
Editor : Eli Kustiyawati