Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gubernur Jawa Barat Ungkap Problem Terbesar Pertanian, Dedi Mulyadi: Kalau Ingin Petani Maju, Seluruh Proses Produksi Harus Mandiri

Mera Puspita Sari • Kamis, 12 Juni 2025 | 11:27 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat mengungkap solusi pertanian supaya maju
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat mengungkap solusi pertanian supaya maju

RADAR BOGOR – Saat menghadiri acara di Karawang pada 11 Juni 2025 bersama jajaran pejabat daerah, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkap problem terbesar saat ini, yakni pertanian.

“Apa problem kita hari ini? Problem kita hari ini adalah di pertanian,” ungkapnya, dikutip dari YouTube Lembur Pakuan Channel pada 12 Juni 2025.

Lebih lanjut, Dedi Mulyadi juga menuturkan mahalnya biaya produksi, mulai dari peralatan, pupuk, hingga tenaga manusia yang digunakan.

 Baca Juga: Gunakan Prinsip Ekonomi Orang Sunda, Gubernur Jawa Barat Ingin Pedesaan Jadi Pusat Produksi, Dedi Mulyadi: Saeutik Mahi Loba Nyesa

“Traktor sewanya mahal. Kuli itu sebedug hari ini Rp100.000 sampai Rp120.000. Kuli ngarambet hari ini itu sebedug Rp50.000 sampai Rp70.000. Sampai jam 3 sore Rp100.000 di daerah saya,” tuturnya.

“Apalagi pupuk itu memang hari ini mudah didapat. Tapi siklus jumlah pupuk semakin tinggi dosisnya. Kenapa? Karena unsur haranya semakin menurun,” imbuhnya.

Dedi Mulyadi juga menuturkan bahwa mikroorganisme di sawah sudah tidak seperti dulu. Termasuk sumber pangan lokal seperti belut, keong, atau tutut yang semakin langka akibat pengolahan yang keliru.

 Baca Juga: Gubernur Jawa Barat Larang Ada Siswa Titipan di SPMB, Dedi Mulyadi: Gak Boleh Titip ke Kepala Sekolah Pakai Atas Nama, Semua Harus Diperlakukan Sama

“Mikroorganismenya hilang di sawah-sawah, cacingnya hilang. Kemudian keongnya adalah musibah, bukan berkah. Dulu keong itu menjadi produktivitas publik,” paparnya.

“Orang-orang ngambil tutut, kemudian ngambil keong. Maka itu stimulus bagi panganan rakyat. Belut di sawah sudah hilang karena pestisida dan disetrum. Akhirnya sawah hari ini bukan jadi pusat andalannya,” sambungnya.

Karena kondisi ekosistem sawah berbeda jauh dari dulu, banyak petani saat ini hanya mengandalkan gabah. Produktivitas lain seperti belut dan keong sawah, baik untuk dijual kembali maupun konsumsi pribadi, sudah sangat minim. Akibatnya, siklus harian pun tidak berjalan baik.

 Baca Juga: Jika Tak Ada Kegiatan, Gubernur Jawa Barat Perintahkan Kepala Sekolah Meliburkan Siswa, Dedi Mulyadi: Cuma Nongkrong-nongkrong Doang

“Andalannya cuma satu: jual gabah dalam ketika pari. Sehingga petani itu betul-betul bergantung pada penjualan gabah. Siklus hariannya ini tidak terisi,” ucapnya.

Agar petani bisa maju dan makmur, Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa solusinya adalah proses produksi secara mandiri.

“Kalau negara ini ingin maju, kalau petani ingin maju, maka seluruh proses produksi harus mandiri. Tanpa proses produksi mandiri, mohon maaf, berat mencapai kemakmuran,” kata Bapa Aing.

 Baca Juga: Ada Siswi Tidak Bermasalah Masuk Barak Militer, Kok Bisa? Ditanya Gubernur Jawa Barat, Begini Jawabannya kepada Dedi Mulyadi

Selanjutnya, Dedi menganalogikan bahwa petani yang bisa bertahan adalah mereka yang memiliki lahan ¼ hektare dan mengerjakan semuanya sendiri. Dengan demikian, tidak ada pembengkakan biaya produksi.

“Saya ini petani. Harga gabah Rp7.000 itu masih berat sebenarnya. Jadi, petani yang bisa bertahan itu adalah yang sawahnya ¼ hektare. Kenapa? Karena mereka bertahan dengan mengerjakan sendiri,” ungkapnya.

“Macul ku sorangan, ngawalu ku sorangan, memupuk ku sorangan, semua sendiri. Tapi kalau sudah dikulikan, nggak seimbang antara biaya produksi dengan hasil produksi,” pungkasnya.***

Editor : Eli Kustiyawati
#dedi mulyadi #gubernur jawa barat #pertanian